Company Profile PT Niramas Utama Tbk, Kode Saham JELI, Investasi, Tren Pasar dan Insight Hari Ini Bagi Investor

Profil Singkat PT Niramas Utama Tbk (JELI)

PT Niramas Utama Tbk merupakan produsen makanan dan minuman penutup yang dikenal melalui merek INACO. Perseroan berdiri sejak 1990 dan fokus pada produk berbasis kelapa serta serat alami, seperti nata de coco, jelly, puding, I’m Coco, dan Jelly Drink.

JELI resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026. Perusahaan menawarkan 266 juta saham baru atau sekitar 21,01% dari total saham tercatat dengan harga IPO Rp900 per saham. Dana IPO menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat kapasitas produksi, fasilitas, modal kerja, dan pengembangan bisnis.

Identitas Perusahaan

PT Niramas Utama Tbk berkantor pusat di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Perseroan memiliki empat fasilitas produksi yang berada di Bekasi, Pandaan, Sukabumi, dan Pontianak, serta jaringan distribusi domestik yang luas.

INACO juga telah memiliki pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Jepang, India, China, Thailand, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat. Posisi tersebut memberikan JELI peluang untuk mengembangkan bisnis tidak hanya melalui konsumsi domestik, tetapi juga melalui pertumbuhan pasar internasional.

Saham JELI Bergerak di Sektor Apa?

Saham JELI berada di sektor consumer non-cyclicals, subsektor processed foods. Bisnis perusahaan termasuk kategori makanan dan minuman yang memiliki karakter permintaan relatif berulang karena produknya merupakan bagian dari konsumsi sehari-hari.

Keunggulan JELI berada pada spesialisasi produk dessert berbasis bahan alami. Perseroan juga mengembangkan produk dengan bahan seperti aloe vera dan konnyaku untuk mengikuti tren healthy lifestyle, terutama di kalangan konsumen muda yang semakin memperhatikan komposisi dan manfaat produk makanan.

Komposisi Pemegang Saham

JELI memiliki total 1,266 miliar saham setelah pelaksanaan IPO. Berdasarkan data kepemilikan yang tersedia, PT Supra Sentral Investama menjadi pemegang saham terbesar dengan 998 juta saham atau sekitar 78,83%.

Sementara itu, sekitar 268 juta saham atau 21,17% berada dalam kelompok saham yang diperdagangkan publik. Komposisi tersebut mencerminkan struktur kepemilikan yang masih didominasi pemegang saham strategis setelah perusahaan melakukan IPO.

Susunan Pemegang Saham JELI per Juli 2026
Pemegang Saham Persentase Kepemilikan
PT Niramas Utama International 78,83%
Pemegang Saham < 5% - Non Warkat 21,01%
Sadikun Wiratno 0,16%

Tren Pasar dan Alasan Investor Melirik Saham JELI

Pada 2025, JELI mencatat pendapatan sekitar Rp753,05 miliar, turun 4,49% dibandingkan 2024. Namun, penurunan penjualan tersebut diikuti perbaikan profitabilitas karena laba bersih meningkat menjadi sekitar Rp39,02 miliar dari Rp11,63 miliar pada 2024.

Memasuki semester pertama 2026, pendapatan tercatat sekitar Rp212,1 miliar dengan laba kotor Rp72,9 miliar. Namun, perusahaan masih mencatat rugi bersih Rp39,4 miliar dan EBITDA negatif sekitar Rp16 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa fase pasca-IPO masih menjadi periode penting bagi perusahaan untuk mengembalikan profitabilitas.

Peluang Pertumbuhan JELI

JELI memiliki peluang pertumbuhan dari ekspansi produk, peningkatan kapasitas produksi, dan perluasan pasar ekspor. Tren konsumsi makanan yang lebih praktis, sehat, dan berbasis bahan alami juga dapat memberikan ruang bagi produk INACO untuk memperluas pasar.

Dana IPO dapat mendukung pengembangan fasilitas produksi, kebutuhan modal kerja, pemasaran, dan penguatan operasional. Jika ekspansi tersebut mampu meningkatkan volume penjualan sekaligus mempertahankan efisiensi biaya, JELI berpotensi memperbaiki margin dan mengembalikan profitabilitas.

Risiko dan Tantangan JELI

Risiko utama JELI saat ini adalah tekanan profitabilitas. Meskipun 2025 menunjukkan peningkatan laba yang signifikan, laporan semester pertama 2026 kembali memperlihatkan kerugian. Investor perlu melihat apakah kondisi tersebut bersifat sementara akibat ekspansi dan penyesuaian operasional atau mencerminkan tekanan yang lebih struktural.

Perseroan juga menghadapi risiko dari harga bahan baku, biaya distribusi, persaingan industri makanan, dan perubahan preferensi konsumen. Ketergantungan pada pasar domestik masih cukup besar karena pada 2025 sekitar Rp737,32 miliar pendapatan berasal dari Indonesia, sedangkan ekspor sekitar Rp15,73 miliar.

Insight Hari Ini Bagi Investor

JELI menarik untuk diperhatikan karena memiliki merek yang sudah dikenal, jaringan distribusi luas, dan posisi kuat di kategori makanan penutup berbasis kelapa. Kinerja 2025 juga menunjukkan bahwa efisiensi biaya mampu meningkatkan laba meskipun pendapatan mengalami penurunan.

Namun, kinerja semester pertama 2026 menjadi catatan penting bagi investor. Pemulihan penjualan, peningkatan utilisasi fasilitas, pengendalian biaya, dan kemampuan mengubah ekspansi menjadi laba akan menjadi indikator utama untuk menilai prospek JELI setelah IPO.

Rian Kurniawan - Start Friday Asia Brand and Business Strategy Consulting

Helps Your Business Grow Meaningfully. Since 2012, we've been helping luxury and premium businesses, from boutique hotels to fashion brands, build strong identities and strategies that generate real growth. Now with AI powered insights for faster, more informed decisions.

https://startfriday.asia
Previous
Previous

Company Profile PT Jaya Real Property Tbk, Kode Saham JRPT, Investasi, Tren Pasar dan Insight Hari Ini Bagi Investor

Next
Next

Company Profile PT Nitrasanata Dharma Tbk, Kode Saham JECX, Investasi, Tren Pasar dan Insight Hari Ini Bagi Investor