PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) merupakan perusahaan konstruksi dan infrastruktur milik negara yang dikenal sebagai salah satu BUMN karya terbesar di Indonesia. Akar perusahaan bermula dari bangunan milik perusahaan Belanda Vis en Co yang dinasionalisasi dan digabungkan menjadi PN Widjaja Karja pada 29 Maret 1961, kemudian bertransformasi menjadi perseroan terbatas (Persero) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1971.
Perusahaan menjalankan bisnis sebagai kontraktor Engineering, Procurement, and Construction (EPC) terintegrasi dengan portofolio yang mencakup gedung, jembatan, bendungan, jalan tol, serta energi dan industri. Melalui anak usaha seperti WIKA Beton, perusahaan juga memproduksi produk beton pracetak untuk mendukung proyek infrastruktur nasional.
Nama Perusahaan: PT Wijaya Karya (Persero) Tbk
Kode Saham: WIKA
Sektor: Perindustrian – Sub Sektor: Konstruksi Bangunan
Tanggal IPO: 29 Oktober 2007
Alamat Kantor Pusat: WIKA Tower, Jl. D.I. Panjaitan Kav. 9, Jatinegara, Jakarta Timur 13340
Website: www.wika.co.id
Saham WIKA Bergerak di Sektor Apa?
Saham WIKA tercatat di Bursa Efek Indonesia pada sektor Perindustrian dengan sub sektor Konstruksi Bangunan, tepatnya pada industri konstruksi berat dan sipil. Bisnis utama perusahaan adalah mengerjakan proyek infrastruktur dan EPC, dengan tiga divisi operasi yang berfokus pada konstruksi dan EPC serta sejumlah anak usaha pendukung.
Per Januari 2026, perusahaan tengah mengerjakan sekitar 85 proyek berjalan, di antaranya 28 proyek strategis nasional. Visi baru perusahaan sejak 2024 adalah menjadi perusahaan infrastruktur dan EPC terintegrasi yang berkelanjutan, sejalan dengan dukungan pemegang saham dalam perolehan kontrak BUMN dan integrasi BUMN karya.
Manajemen dan Pengurus Perusahaan
Berdasarkan hasil RUPST Tahun Buku 2025 pada 11 Mei 2026, susunan pengurus PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) terdiri dari:
Dewan Komisaris
Apri Artoto – Komisaris Utama
Suwarta – Komisaris
Suryo Hapsoro Tri Utomo – Komisaris Independen
Adityawarman – Komisaris Independen
Harris Arthur Hedar – Komisaris Independen
Dewan Direksi
I Ketut Pasek Senjaya Putra – Direktur Utama
Hananto Aji – Direktur Operasi I
Sonny Setyadhy – Direktur Operasi II
Hadjar Seti Adji – Direktur Manajemen SDM dan Transformasi
Vera Kirana – Direktur Manajemen Risiko dan Legal
Mulyadi – Direktur Keuangan
Pemilik dan Pengendali Saham WIKA
Struktur pemegang saham WIKA menunjukkan bahwa pengendali utama perusahaan adalah PT Danantara Asset Management dengan kepemilikan sekitar 90,11%, sejalan dengan konsolidasi saham BUMN di bawah badan pengelola investasi negara. Negara Republik Indonesia juga masih memegang satu lembar saham Seri A Dwiwarna yang memberikan hak khusus kepada pemerintah.
Sisa kepemilikan saham sekitar 9% dimiliki oleh publik, dengan sebagian kecil dipegang oleh anggota direksi seperti Hananto Aji dan Hadjar Seti Adji. Dengan dominasi kepemilikan negara, kebijakan strategis perusahaan sangat selaras dengan agenda pembangunan infrastruktur dan restrukturisasi BUMN karya.
Sekilas Sejarah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk
Perjalanan WIKA bermula pada 1960-an ketika perusahaan konstruksi peninggalan Belanda dinasionalisasi dan digabungkan menjadi PN Widjaja Karja, kemudian berubah menjadi Persero pada 1971. Perusahaan resmi melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia pada 29 Oktober 2007, menjadi salah satu BUMN karya pertama yang tercatat di pasar modal.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan menjalani proses restrukturisasi komprehensif untuk memperbaiki struktur permodalan dan kewajiban. Pada RUPST 11 Mei 2026, pemegang saham menunjuk I Ketut Pasek Senjaya Putra sebagai Direktur Utama menggantikan Agung Budi Waskito, serta Apri Artoto sebagai Komisaris Utama menggantikan Jarot Widyoko.
Status Perdagangan dan Kinerja Pasar Terbaru
Saham WIKA merupakan salah satu emiten konstruksi BUMN dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp8,1 triliun di Bursa Efek Indonesia pada 2026. Sepanjang tahun buku 2025, perusahaan membukukan kontrak baru sebesar Rp17,46 triliun, kontrak dihadapi sebesar Rp50,55 triliun, penjualan sebesar Rp20,44 triliun, dan total aset sebesar Rp50,15 triliun.
Manajemen menyatakan strategi perusahaan difokuskan pada penguatan struktur permodalan, optimalisasi pengelolaan kewajiban, percepatan penagihan, dan pengendalian belanja secara disiplin. Dengan porsi saham publik yang sekitar 9%, investor juga perlu memantau perkembangan terkait ketentuan porsi saham beredar (free float) dan pemberitaan mengenai daftar emiten yang berpotensi terkena delisting.
Tren Pasar dan Alasan Investor Mulai Melirik WIKA
Beberapa faktor yang membuat investor memperhatikan saham WIKA antara lain:
Dukungan pemegang saham negara melalui Danantara dalam perolehan kontrak BUMN grup.
Pergantian direksi dan komisaris dalam RUPST 2026 untuk penyegaran manajemen.
Portofolio sekitar 85 proyek berjalan, termasuk 28 proyek strategis nasional.
Kontrak dihadapi sebesar Rp50,55 triliun yang menopang visibilitas pendapatan.
Fokus manajemen pada penguatan permodalan, penagihan, dan disiplin belanja.
Peluang proyek infrastruktur dan EPC seiring agenda pembangunan nasional.
Risiko dan Tantangan yang Perlu Diperhatikan Investor
Meski mendapat dukungan negara, terdapat beberapa risiko yang perlu menjadi perhatian investor:
Beban kewajiban dan struktur permodalan yang masih menjadi fokus restrukturisasi.
Penjualan dan kontrak baru yang relatif terbatas dibandingkan skala aset perusahaan.
Porsi saham publik yang kecil sehingga likuiditas dan ketentuan free float perlu dicermati.
Pemberitaan mengenai potensi delisting yang perlu diverifikasi melalui pengumuman resmi Bursa.
Ketergantungan pada kebijakan pemerintah, pendanaan proyek, dan kecepatan penagihan.
Insight Hari Ini untuk Investor
Dari sisi fundamental, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk merupakan salah satu BUMN karya dengan rekam jejak proyek infrastruktur nasional yang panjang dan dukungan penuh negara melalui Danantara. Pergantian jajaran direksi dan komisaris pada 2026 menandai upaya penyegaran strategi di tengah proses restrukturisasi yang masih berlangsung.
Kemajuan restrukturisasi kewajiban, realisasi penagihan, perolehan kontrak baru, serta kejelasan ketentuan porsi saham publik menjadi hal yang layak dipantau investor dalam jangka menengah. Artikel ini bersifat informatif sebagai profil perusahaan, dan investor disarankan merujuk pada keterbukaan informasi resmi Bursa serta berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan.
Kesimpulan
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) merupakan perusahaan konstruksi dan EPC milik negara dengan portofolio proyek infrastruktur besar yang kini dikendalikan Danantara dengan kepemilikan sekitar 90%. Berbekal dukungan pemegang saham, penyegaran manajemen, dan kontrak dihadapi yang besar, saham WIKA tetap menjadi salah satu emiten sektor konstruksi BUMN yang layak dicermati investor, dengan tetap memperhatikan risiko restrukturisasi dan likuiditas saham.

