Bagaimana Hestia Connecting Hotels Membangun Brand Experience
Surabaya, Start Friday Asia — Hestia Connecting Hotels membangun brand experience dengan cara menghubungkan pengalaman menginap dengan karakter destinasi yang berbeda-beda. Portofolionya mencakup D'Senopati Malioboro Grand Hotel, D'Kaliurang Resort & Convention, D'Girijati Resort & Beachclub, D'Salvatore Art & Boutique Hotel, dan Stadio Hostel. Situs resminya memperlihatkan bahwa setiap properti membawa narasi tempat masing-masing, mulai dari kawasan heritage Yogyakarta hingga lereng Merapi dan pesisir Gunungkidul.
Bagi fripipel, pendekatan tersebut menarik karena pengalaman sebuah hotel tidak hanya terbentuk dari kamar, fasilitas, atau pelayanan. Dalam perspektif place branding, hotel juga menjadi pintu masuk untuk mengenali karakter sebuah destinasi. Hestia memanfaatkan konteks lokasi sebagai bagian dari cerita yang ditawarkan kepada tamu.
Pendekatan tersebut terlihat dari penggunaan tema seperti BeyondTheHeritage, OneStopAdventure, BeyondTheSea, dan BackpackerSanctuary. Tema-tema tersebut bukan sekadar nama promosi, tetapi memberikan gambaran mengenai jenis pengalaman yang ingin dibangun pada masing-masing properti.
Dengan demikian, brand experience Hestia dapat dibaca sebagai strategi yang menghubungkan identitas hotel dengan identitas tempat. Hotel menjadi medium untuk membawa karakter destinasi ke dalam pengalaman tamu, bukan sekadar tempat untuk bermalam.
Apa yang Dimaksud Hestia Connecting Hotels dengan Brand Experience?
Brand experience pada Hestia dapat dipahami melalui cara setiap properti memberikan pengalaman yang berbeda berdasarkan konteks geografisnya. D'Senopati Malioboro Grand Hotel ditempatkan di pusat Yogyakarta dan dekat kawasan heritage, sedangkan D'Kaliurang Resort & Convention mengangkat suasana alam di bawah lereng Merapi.
D'Girijati Resort & Beachclub membawa pengalaman pesisir melalui lokasi di tebing pantai Gunungkidul. Sementara itu, Stadio Hostel mengambil pendekatan berbeda dengan menempatkan pengalaman backpacker di tengah Kota Yogyakarta sehingga berbagai destinasi dapat dijangkau dengan berjalan kaki.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa Hestia tidak memaksakan satu bentuk pengalaman kepada seluruh propertinya. Karakter lokasi justru menjadi bahan untuk membangun pengalaman yang lebih relevan dengan target masing-masing hotel.
Dari perspektif place branding, strategi seperti ini penting karena pengalaman wisatawan terbentuk dari interaksi antara tempat, aktivitas, manusia, dan fasilitas. Hotel kemudian berfungsi sebagai salah satu titik interaksi yang menerjemahkan karakter destinasi menjadi pengalaman nyata.
Siapa yang Menjadi Bagian dari Brand Experience Hestia Connecting Hotels?
Pengalaman Hestia tidak hanya dibentuk oleh pengelola hotel. Tamu menjadi pihak utama karena mereka mengalami langsung suasana, pelayanan, fasilitas, dan lingkungan destinasi yang ditawarkan setiap properti.
Namun, masyarakat lokal dan lingkungan sekitar juga menjadi bagian penting. D'Senopati misalnya berada di kawasan yang dekat dengan Tugu Jogja, Malioboro, dan Keraton Yogyakarta, sedangkan D'Kaliurang memiliki akses terhadap Bunker Kaliadem dan aktivitas wisata Merapi.
Beberapa kelompok yang secara tidak langsung menjadi bagian dari pengalaman tersebut antara lain:
Wisatawan yang mencari pengalaman budaya dan heritage.
Keluarga dan kelompok yang membutuhkan aktivitas alam atau gathering.
Wisatawan yang mencari pengalaman pesisir.
Backpacker yang membutuhkan akomodasi strategis dan ruang komunal.
Keberagaman target tersebut membuat pengalaman tidak dapat dibangun dengan satu formula. Hestia justru memiliki peluang untuk membentuk pengalaman berbeda sesuai karakter pengunjung dan lokasi masing-masing properti.
Mengapa Karakter Lokasi Penting bagi Brand Experience Hestia?
Karakter lokasi memberikan alasan mengapa sebuah hotel terasa berbeda dari hotel lain. D'Senopati tidak hanya menjual kamar, tetapi juga kedekatan dengan kawasan heritage Yogyakarta. D'Kaliurang membawa suasana lereng Merapi dan alam sebagai bagian dari pengalaman.
Hal tersebut menjadi penting karena wisatawan tidak hanya mencari tempat tidur ketika melakukan perjalanan. Mereka juga mencari pengalaman yang sesuai dengan tujuan perjalanan. Hotel yang mampu menghubungkan akomodasi dengan karakter destinasi mempunyai peluang lebih besar untuk menjadi bagian dari memori perjalanan.
Dari sudut pandang place branding, hubungan tersebut menciptakan asosiasi antara hotel dan tempat. Ketika seseorang mengingat pengalaman menginap di kawasan heritage, lereng Merapi, pesisir Gunungkidul, atau pusat kota Yogyakarta, karakter lokasi dapat ikut memperkuat ingatan terhadap properti Hestia.
Bagi fripipel, pelajaran pentingnya adalah identitas hotel tidak harus berdiri terpisah dari identitas destinasi. Justru, karakter tempat dapat menjadi aset untuk membuat pengalaman lebih relevan dan lebih mudah diingat.
Baca juga: Apa yang Membuat Nevada Hotel Ketapang Menarik bagi Wisatawan dan Pelaku Bisnis
Kapan Strategi Brand Experience Hestia Terlihat dalam Perjalanan Bisnisnya?
Strategi tersebut dapat dilihat dari struktur portofolio Hestia yang sudah mengembangkan beberapa properti dengan karakter lokasi dan konsep berbeda. Situs resmi Hestia mencantumkan lima properti utama serta berbagai tema pengalaman yang dikaitkan dengan masing-masing lokasi.
Hestia juga menampilkan berbagai penawaran seperti paket wedding, gateway, makanan, dan minuman. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman tidak berhenti pada akomodasi, tetapi diperluas melalui aktivitas dan layanan yang dapat dikonsumsi tamu selama berada di properti.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa brand experience dapat dibangun secara bertahap melalui berbagai titik kontak. Kamar, restoran, ruang pertemuan, aktivitas, lokasi, hingga promosi dapat menjadi bagian dari pengalaman.
Bagi sebuah perusahaan hospitality, konsistensi pada titik-titik tersebut penting karena persepsi terhadap brand terbentuk dari akumulasi pengalaman. Semakin banyak titik interaksi yang mendukung karakter tempat, semakin kuat peluang terbentuknya persepsi yang konsisten.
Di Mana Hestia Connecting Hotels Mengembangkan Pengalaman Berbasis Tempat?
Portofolio Hestia terutama berada di Yogyakarta dan sekitarnya. D'Senopati berada di Jalan Panembahan Senopati, D'Kaliurang berada di kawasan Pakem, D'Girijati berada di Girijati, D'Salvatore berada di Jalan Laksda Adisucipto, sementara Stadio Hostel berada di kawasan Prawirodirjan, Yogyakarta.
Lokasi tersebut memberikan variasi pengalaman yang cukup besar. Ada properti yang berorientasi pada heritage kota, alam pegunungan, pesisir, seni, hingga perjalanan backpacker.
Keragaman geografis tersebut justru dapat menjadi kekuatan dalam perspektif place branding. Setiap hotel memiliki konteks yang dapat dikembangkan menjadi cerita tersendiri tanpa harus menghilangkan identitas korporat Hestia sebagai pengelola.
Dengan kata lain, lokasi bukan sekadar alamat operasional. Bagi Hestia, lokasi dapat berfungsi sebagai bahan pembentuk pengalaman yang membuat satu properti memiliki alasan keberadaan yang berbeda dari properti lainnya.
Bagaimana Hestia Connecting Hotels Membangun Brand Experience?
Hestia membangun brand experience dengan menghubungkan fasilitas hotel, karakter lokasi, aktivitas, dan kebutuhan pengunjung ke dalam pengalaman yang lebih spesifik. Pendekatan ini terlihat dari cara Hestia memberikan tema berbeda untuk setiap properti, seperti BeyondTheHeritage, OneStopAdventure, BeyondTheSea, dan BackpackerSanctuary.
Strategi tersebut dapat diperkuat dengan menjaga konsistensi pada beberapa titik berikut:
Menjadikan karakter destinasi sebagai bagian dari pengalaman hotel.
Mengembangkan aktivitas yang relevan dengan lingkungan sekitar.
Menyesuaikan fasilitas dengan kebutuhan target pengunjung.
Menghubungkan pengalaman digital dengan pengalaman langsung di properti.
Pada akhirnya, kekuatan Hestia bukan hanya pada jumlah properti yang dimiliki, tetapi pada kemampuan menghubungkan hotel dengan konteks tempatnya. Dalam perspektif place branding, pendekatan tersebut membantu setiap properti memiliki karakter yang lebih jelas sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan ketika menjelajahi Yogyakarta dan sekitarnya.
Bagi fripipel yang mempelajari strategi hospitality, Hestia menunjukkan bahwa brand experience dapat dibangun dengan menjadikan destinasi sebagai bagian dari produk. Ketika hotel tidak hanya menjual kamar, tetapi juga menjual konteks, cerita, dan pengalaman tempat, hubungan antara brand dan wisatawan dapat menjadi lebih kuat.
Data & Statistik
| Indikator | Data / Informasi |
|---|---|
| Portofolio | D'Senopati Malioboro, D'Kaliurang, D'Girijati, D'Salvatore, dan Stadio Hostel |
| Kawasan | Yogyakarta dan wilayah sekitarnya dengan karakter heritage, alam, pesisir, dan urban |
| Positioning | Hospitality yang menghubungkan pengalaman hotel dengan karakter destinasi |
| Target Utama | Wisatawan, keluarga, kelompok, dan backpacker sesuai karakter setiap properti |
| Konsep Pengalaman | BeyondTheHeritage, OneStopAdventure, BeyondTheSea, dan BackpackerSanctuary |
| Daya Tarik | Pengalaman menginap yang disesuaikan dengan budaya, alam, pesisir, dan karakter kota |
| Keunggulan Lokasi | Dekat dengan destinasi heritage, Merapi, pantai Gunungkidul, dan pusat Kota Yogyakarta |
| Identitas Tempat | Setiap properti membawa cerita dan pengalaman yang berbeda berdasarkan lokasinya |
| Place Branding | Diperkuat dengan menjadikan karakter destinasi sebagai bagian dari pengalaman hotel |
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
-
Menghubungkan pengalaman menginap dengan karakter dan destinasi di sekitar setiap properti.
-
Wisatawan, keluarga, kelompok, dan backpacker sesuai karakter masing-masing properti.
-
Dalam pengembangan dan pengelolaan berbagai properti dengan konsep pengalaman yang berbeda.
-
Di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya dengan karakter heritage, alam, pesisir, dan urban.
-
Karena lokasi menjadi bagian dari cerita dan pengalaman brand yang lebih relevan serta berkesan.
-
Dengan menggabungkan lokasi, fasilitas, aktivitas, dan karakter destinasi ke dalam pengalaman menginap.
Ingin Place Branding Fripipel Se-Kuat Hestia Connecting Hotels?
Jika Fripipel ingin:
Membangun identitas kuat melalui positioning yang selaras dengan karakter setiap destinasi.
Menjadikan lokasi dan lingkungan sekitar sebagai bagian dari brand experience.
Menghadirkan pengalaman yang konsisten melalui fasilitas, layanan, aktivitas, dan identitas brand.
Menyesuaikan konsep pengalaman dengan karakter dan kebutuhan target pengunjung.
Menghubungkan brand dengan destinasi dan ekosistem lokal untuk memperkuat daya tarik serta awareness.
Maka Fripipel membutuhkan strategi branding yang terintegrasi.
Saatnya produk Fripipel tidak hanya dikenal, tetapi juga menjadi pilihan utama di pasar melalui product Branding yang tepat.
Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consultingmembantu brand berkembang melalui:
Branding & positioning strategy
Website dan landing page berbasis SEO
Content strategy yang relevan dengan tren
Digital campaign untuk meningkatkan exposure
Pastikan brand Fripipel berkembang bersama Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consulting. Integrasikan layanan Business Consultingserta Brand Strategy Consulting untuk menciptakan product Branding yang lebih kuat, kompetitif, dan berkelanjutan.
Baca juga :

