Peringkat Pariwisata Dunia 2026: Jepang Terbaik, Indonesia Posisi 23

Surabaya, Start Friday Asia — TTDI 2026 atau Travel and Tourism Development Index adalah indeks yang dirilis World Economic Forum bersama Zurich Insurance Group untuk menilai kesiapan 110 negara dalam mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan dan tangguh, dan pada edisi 2026 Jepang menempati peringkat pertama. Amerika Serikat berada di posisi kedua dan Spanyol di posisi ketiga, sedangkan Indonesia berada di peringkat 23 dengan skor 4,56. Bagi fripipel yang tertarik pada citra destinasi, peringkat ini bukan sekadar daftar negara, melainkan cermin tentang siapa yang paling siap menjaga reputasi pariwisatanya. Artikel ini mengulasnya melalui kerangka 5W 1H dari sudut pandang place branding, lengkap dengan data pendukungnya.

Apa yang Diukur oleh TTDI 2026 dan Bagaimana Hasil Peringkat Teratasnya?

TTDI mengukur faktor dan kebijakan yang mendukung perkembangan perjalanan dan pariwisata, bukan jumlah wisatawan atau pendapatan wisata. Edisi 2026 adalah edisi kesepuluh, mencakup 110 ekonomi, dan disusun dari 5 dimensi, 17 pilar, serta 102 indikator. Artinya, peringkat tinggi menandakan kesiapan lingkungan pendukung, seperti infrastruktur, konektivitas, sumber daya budaya dan alam, serta kebijakan.

Jepang memimpin dengan skor 5,27 dari 7, naik dua tingkat dibanding edisi 2024. Menurut pemberitaan Prothom Alo yang merujuk pada rilis WEF, Amerika Serikat yang memimpin edisi sebelumnya kini berada di posisi kedua dengan skor 5,23. Selisih skor antarnegara teratas sangat tipis, sehingga posisi mudah berubah dari satu edisi ke edisi berikutnya.

Sepuluh negara dengan peringkat teratas pada TTDI 2026 adalah sebagai berikut:

  • Jepang dengan skor 5,27.

  • Amerika Serikat dengan skor 5,23.

  • Spanyol dengan skor 5,22.

  • Australia dengan skor 5,18.

  • Prancis dengan skor 5,17.

  • Jerman, Inggris Raya, China, Swiss, dan Italia di peringkat enam sampai sepuluh.

Daftar ini menunjukkan bahwa sembilan dari sepuluh negara teratas adalah negara maju, dengan China sebagai pengecualian. Dari sudut pandang place branding, pesan utamanya jelas: citra pariwisata yang kuat dibangun dari fondasi yang konsisten, bukan hanya dari promosi.

Siapa Saja yang Terlibat dan Negara Mana yang Menonjol di TTDI 2026?

Pihak penyusun utama adalah World Economic Forum bersama Zurich Insurance Group. Rilis resmi WEF menyebut indeks ini bersandar pada hampir dua dekade riset tolok ukur, dan edisi 2026 diperkenalkan pada acara Beyond Tourism Day. Kolaborasi dengan mitra asuransi global menunjukkan bahwa indeks ini juga memperhatikan ketahanan dan risiko.

Pihak berikutnya adalah negara dengan peringkat teratas. Wisata Jepang menonjol karena strategi mendorong aktivitas pariwisata ke wilayah di luar destinasi utama, sehingga kunjungan tidak menumpuk di tempat yang sudah ramai. Strategi ini mengaitkan citra negara dengan pengalaman yang lebih tersebar dan beragam.

Pihak ketiga adalah negara dengan lonjakan skor terbesar. Fortune Indonesia mencatat Albania naik 7 persen dibanding 2024, diikuti Vietnam, Laos, Qatar, dan Malaysia, kemudian Thailand, Filipina, Maroko, Nepal, dan Sri Lanka. WEF mengaitkan lonjakan Albania dengan perbaikan layanan, konektivitas udara, serta infrastruktur darat dan pelabuhan.

Pihak keempat adalah ekonomi berkembang besar. Ringkasan rilis WEF menyebut sepuluh ekonomi pariwisata berkembang utama, termasuk India, China, Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Turki, Meksiko, dan Brasil, semakin mempersempit jarak dengan ekonomi maju. India naik sembilan peringkat ke posisi 31, sedangkan Indonesia mengumumkan hasilnya melalui Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana pada 9 Oktober 2026.

Kapan TTDI 2026 Dirilis dan Bagaimana Perkembangannya dari Edisi Sebelumnya?

TTDI 2026 diperkenalkan pada 25 September 2026. Indeks ini terbit setiap dua tahun, sehingga hasil terbaru dibandingkan dengan edisi 2024 untuk melihat arah perubahan. Dalam periode itu, 101 dari 110 ekonomi atau sekitar 92 persen mencatat peningkatan skor.

Rata-rata skor global naik 2,1 persen, kenaikan tercepat sejak 2019. Antara 2024 dan 2026, skor rata-rata meningkat pada 14 dari 17 pilar yang diukur, dan WEF menyebut kondisi pendukung pariwisata kini berada pada level terkuat sejak pandemi. Perbaikan itu dipicu oleh sumber daya budaya, infrastruktur dan layanan, konektivitas udara, serta perjalanan bisnis.

Beberapa tonggak waktu penting dapat dirangkum sebagai berikut:

  • 2024: Amerika Serikat memimpin edisi sebelumnya dan Indonesia berada di posisi 22 dengan skor 4,46 menurut catatan Wikipedia.

  • 25 September 2026: TTDI 2026 dirilis dengan Jepang di peringkat pertama.

  • 5 Oktober 2026: Fortune Indonesia menerbitkan daftar negara dengan pariwisata terbaik 2026.

  • 9 Oktober 2026: Kementerian Pariwisata memaparkan peringkat 23 Indonesia dengan skor 4,56.

Perlu dicatat bahwa edisi 2026 menghitung ulang angka historis, sehingga perbandingan langsung dengan hasil yang diterbitkan sebelumnya perlu dilakukan dengan hati-hati. Karena itu, fripipel sebaiknya membaca posisi Indonesia dari 22 ke 23 sebagai gambaran umum, bukan sebagai penurunan yang pasti.

Baca juga: Optimalkan Destination Branding Indonesia untuk Berkelanjutan, Perlu Gak Sih?

Di Mana Posisi Indonesia dan Kawasan Asia Pasifik pada TTDI 2026?

Asia Pasifik menjadi kawasan dengan peningkatan terkuat. Rata-rata skor TTDI kawasan ini naik 3,6 persen antara 2024 dan 2026, dan tujuh dari sepuluh negara dengan peningkatan skor terbesar berasal dari kawasan tersebut. Kenaikan ini menempatkan Asia Pasifik sebagai wilayah yang paling cepat memperbaiki kesiapan pariwisatanya.

Indonesia berada di peringkat 23 dari 110 ekonomi dengan skor 4,56, naik dari 4,46 pada 2024. Menurut laporan Indoconnect yang merujuk pada pemaparan Menteri Pariwisata, Indonesia berada di posisi keenam di Asia Pasifik dan kedua di Asia Tenggara setelah Singapura. Posisi ini menegaskan bahwa wisata Indonesia sudah masuk kelompok papan atas kawasan.

Kekuatan terbesar Indonesia ada pada pilar prioritas pariwisata. Indonesia menempati peringkat pertama dunia pada pilar Prioritization of Travel and Tourism dengan skor 6,12, yang menandakan bahwa pemerintah menempatkan pariwisata sebagai agenda utama. Dalam kerangka nation branding, komitmen kebijakan seperti ini adalah modal penting untuk membangun kepercayaan jangka panjang.

Namun, penilaian yang sama menyoroti area yang perlu diperbaiki, yaitu layanan dan infrastruktur pariwisata, kesehatan dan kebersihan, kesiapan digital, keterbukaan perjalanan, serta keselamatan dan keamanan. Bagi fripipel yang mengamati citra destinasi, daftar ini menunjukkan bahwa kekuatan Indonesia ada pada niat dan kebijakan, sedangkan tantangannya ada pada pengalaman langsung wisatawan.

Mengapa Hasil TTDI 2026 Penting bagi Place Branding Destinasi?

Pertama, indeks ini menunjukkan bahwa citra destinasi bertumpu pada kesiapan nyata. Merek tempat yang kuat tidak cukup dengan slogan, karena wisatawan menilai keamanan, kebersihan, konektivitas, dan layanan. TTDI mengukur hal-hal tersebut sehingga selaras dengan apa yang dirasakan pengunjung.

Kedua, persebaran wisatawan menjadi strategi merek. Pendekatan Jepang yang mengarahkan pengunjung ke wilayah di luar destinasi utama memperluas cerita negara, dari hanya kota-kota terkenal menjadi banyak daerah. Pendekatan seperti ini juga membantu mengurangi tekanan pada tempat yang sudah padat.

Ketiga, pertumbuhan permintaan datang bersama tantangan. Fortune Indonesia, merujuk pada WEF, mencatat kedatangan wisatawan internasional sekitar 1,5 miliar pada 2025, naik 5 persen dibanding 2024 dan 4,4 persen dari level 2019. Namun IndexBox melaporkan bahwa pada tiga dari empat ekonomi perjalanan menjadi kurang terjangkau antara 2024 dan 2026, investasi pariwisata tertinggal dari permintaan, dan kekurangan tenaga kerja mengancam pertumbuhan.

Keempat, tantangan itu berarti merek destinasi harus menjaga nilai, bukan hanya jumlah. Ketika biaya naik lebih cepat daripada inflasi di banyak negara, wisatawan akan menimbang apakah pengalaman sebanding dengan harga. Bagi pengelola destinasi, ini adalah pengingat bahwa place branding yang kuat harus diikuti kualitas yang konsisten dan harga yang terasa adil.

Bagaimana Indonesia dan Destinasi Lain Dapat Memanfaatkan Hasil TTDI 2026 untuk Memperkuat Citra?

Pertama, kekuatan kebijakan perlu diterjemahkan menjadi pengalaman. Peringkat pertama dunia pada pilar prioritas pariwisata adalah aset, tetapi wisatawan baru akan merasakannya jika layanan, kebersihan, dan keselamatan di lapangan membaik. Indikator yang disorot sebagai area perbaikan dapat menjadi daftar kerja yang konkret.

Kedua, kesiapan digital dan keterbukaan perlu ditingkatkan. Informasi yang jelas, pembayaran yang mudah, dan layanan dalam berbagai bahasa membantu wisatawan mengambil keputusan lebih cepat. Langkah ini juga memperkuat citra negara sebagai tujuan yang ramah dan siap menerima tamu dari berbagai negara.

Ketiga, kualitas akomodasi dan layanan dapat dijadikan cerita penguat. Menteri Pariwisata menyebut 47 hotel dan resor Indonesia menerima MICHELIN Keys pada 2026, naik dari 33 pada 2025, dan Indonesia berada di posisi kedua di Asia Tenggara setelah Thailand. Capaian ini menunjukkan bahwa kualitas yang terukur dapat menjadi bahan promosi yang kredibel.

Keempat, strategi persebaran dan pariwisata berkelanjutan layak diadaptasi. Mengangkat destinasi di luar pusat-pusat populer, sambil menjaga lingkungan dan masyarakat setempat, selaras dengan temuan WEF dan dapat mengurangi tekanan pada tempat yang padat. Dengan begitu, manfaat pariwisata terasa lebih merata.

Pada akhirnya, hasil TTDI 2026 menunjukkan bahwa reputasi destinasi dibangun dari kesiapan yang bisa diukur dan dipertahankan dari waktu ke waktu. Bagi fripipel yang ingin memahami place branding pada tingkat negara, pelajaran dari Jepang, Albania, dan Indonesia sama: citra yang kuat lahir ketika kebijakan, infrastruktur, dan pengalaman wisatawan bergerak ke arah yang sama.

Data & Statistik

TTDI 2026: Jepang Pimpin Pariwisata Dunia
Indikator Data / Informasi
Indeks Travel and Tourism Development Index (TTDI) 2026, indeks kesiapan pengembangan pariwisata berkelanjutan dan tangguh
Penyusun World Economic Forum bersama Zurich Insurance Group
Cakupan Penilaian 110 ekonomi, 5 dimensi, 17 pilar, dan 102 indikator
Peringkat Teratas Jepang peringkat 1 (5,27), Amerika Serikat peringkat 2 (5,23), dan Spanyol peringkat 3 (5,22)
Posisi Indonesia Peringkat 23 dari 110 ekonomi dengan skor 4,56, naik dari skor 4,46 pada 2024
Kekuatan Indonesia Peringkat 1 dunia pada pilar Prioritization of Travel and Tourism dengan skor 6,12
Tantangan Indonesia Perbaikan layanan dan infrastruktur pariwisata, kesehatan dan kebersihan, kesiapan digital, keterbukaan perjalanan, serta keselamatan dan keamanan
Strategi Jepang Mendorong persebaran aktivitas wisata ke wilayah di luar destinasi utama agar pengalaman lebih beragam dan tekanan pada lokasi populer berkurang
Place Branding Diperkuat melalui kesiapan destinasi, infrastruktur, kebijakan konsisten, pengalaman wisatawan, dan pariwisata berkelanjutan

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Ingin Place Branding Fripipel Se-Kuat Jepang yang Memimpin TTDI 2026?

Jika Fripipel ingin:

  • Membangun citra destinasi yang kuat dengan fondasi infrastruktur, layanan, dan kebijakan pariwisata yang konsisten.

  • Mengubah komitmen pariwisata menjadi pengalaman nyata melalui kebersihan, keamanan, dan kualitas layanan.

  • Memperkuat kesiapan digital agar wisatawan lebih mudah mengakses informasi, melakukan pembayaran, dan menikmati perjalanan.

  • Mengembangkan destinasi di luar pusat wisata populer untuk memperluas daya tarik sekaligus mengurangi kepadatan.

  • Membangun reputasi jangka panjang melalui pariwisata berkelanjutan yang memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat lokal.

Maka Fripipel membutuhkan strategi branding yang terintegrasi.

Saatnya produk Fripipel tidak hanya dikenal, tetapi juga menjadi pilihan utama di pasar melalui product Branding yang tepat.

Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consultingmembantu brand berkembang melalui:

  • Branding & positioning strategy

  • Website dan landing page berbasis SEO

  • Content strategy yang relevan dengan tren

  • Digital campaign untuk meningkatkan exposure

Pastikan brand Fripipel berkembang bersama Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consulting. Integrasikan layanan Business Consultingserta Brand Strategy Consulting untuk menciptakan product Branding yang lebih kuat, kompetitif, dan berkelanjutan.

Baca juga :

Rian Kurniawan - Start Friday Asia Brand and Business Strategy Consulting

Helps Your Business Grow Meaningfully. Since 2012, we've been helping luxury and premium businesses, from boutique hotels to fashion brands, build strong identities and strategies that generate real growth. Now with AI powered insights for faster, more informed decisions.

https://startfriday.asia
Previous
Previous

Tiga Biskuit Bayi Pilihan Keluarga Indonesia Membaca Milna Promina dan SUN dari Label Gizi sampai Cerita Mereknya

Next
Next

Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consulting Perluas Kolaborasi Pendidikan dan Industri Bersama SMK Labschool Unesa