PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT), atau dikenal sebagai SBA Textile, merupakan perusahaan tekstilyang berbasis di Bandung, Jawa Barat. Perusahaan didirikan pada 17 Juli 2003 dan mulai berproduksi pada 2004, dengan fokus pada industri benang pintal dan ring-spun untuk kebutuhan industri tekstil.
Perusahaan dikenal sebagai produsen benang hasil daur ulang dengan kapasitas produksi sekitar 20.000 ton per tahun atau sekitar 1% dari kebutuhan tekstil nasional. Produknya pernah diekspor ke lebih dari 20 negara, dengan fasilitas produksi di kawasan Cikancung, Kabupaten Bandung, sebelum seluruh kegiatan operasional dihentikan pada Juli 2024.
Nama Perusahaan: PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk
Kode Saham: SBAT
Sektor: Barang Konsumen Non-Primer – Sub Sektor: Pakaian & Barang Mewah (Tekstil)
Tanggal IPO: 8 April 2020
Alamat Kantor Pusat: Jl. Raya Cicalengka–Majalaya Km. 5, Sri Rahayu, Cikancung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
Website: www.sbatextile.com
Saham SBAT Bergerak di Sektor Apa?
Saham SBAT tercatat di Bursa Efek Indonesia pada sektor Barang Konsumen Non-Primer dengan sub sektor Pakaian & Barang Mewah, tepatnya pada industri tekstil. Bisnis utama perusahaan adalah industri dan perdagangan tekstil, terutama produksi benang dari serat daur ulang dan benang pintal untuk pasar domestik maupun ekspor.
Namun, kondisi bisnis perusahaan saat ini sangat berbeda dari masa operasionalnya. Perusahaan tidak lagi beroperasi sejak Juli 2024, dan laporan keuangan terakhir yang disampaikan ke Bursa adalah laporan kuartal III tahun 2023, sehingga informasi kinerja terbaru sangat terbatas.
Manajemen dan Pengurus Perusahaan
Berdasarkan informasi terakhir yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, susunan pengurus PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT) terdiri dari:
Dewan Komisaris
Mamay Jamaludin – Komisaris Utama
Ivan Zuchly – Komisaris
Dewan Direksi
Martha Intan Yaputra – Direktur Utama
Jefri Zal – Direktur
Pemilik dan Pengendali Saham SBAT
Struktur pemegang saham SBAT menunjukkan bahwa pengendali perusahaan adalah Tan Heng Lok dengan kepemilikan sekitar 34,48% atau sekitar 1,64 miliar lembar saham. Selain itu terdapat kepemilikan strategis oleh PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) sekitar 14%, serta PT Lima Satuju Utama sekitar 5,32%.
Sisa saham dimiliki oleh masyarakat dengan porsi saham publik atau free float yang tercatat sekitar 51,52% dari total sekitar 4,65 miliar saham beredar. Sekitar 13 ribu investor publik tercatat memegang saham SBAT sehingga dampak kepailitan perusahaan dirasakan cukup luas.
Sekilas Sejarah PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk
Perjalanan SBAT bermula pada 2003 ketika perusahaan didirikan di Bandung dan mulai berproduksi pada 2004, dengan butuh waktu sekitar 15 tahun untuk mencapai kapasitas produksi sekitar 20.000 ton per tahun. Perusahaan resmi melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia pada 8 April 2020 dengan melepas 425 juta saham pada harga penawaran Rp105 per saham.
Titik balik terjadi ketika perusahaan menghadapi PKPU hingga mengajukan usulan restrukturisasi utang sekitar Rp650 miliar. Pada 29 Agustus 2025, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan PKPU berakhir dan memutus perusahaan pailit, dengan seluruh aset berada di bawah penguasaan kurator, sementara manajemen menyatakan tidak mengajukan upaya hukum.
Status Perdagangan dan Kinerja Pasar Terbaru
Saham SBAT saat ini berstatus suspensi perdagangan dan dijadwalkan terkena penghapusan pencatatan (delisting) efektif pada 10 November 2026, bersama 17 emiten lain yang terdiri dari tujuh emiten pailit dan sebelas emiten dengan suspensi lebih dari 50 bulan. Harga terakhir saham tercatat sekitar Rp1 per lembar dengan kapitalisasi pasar nominal sekitar Rp4,75 miliar, jauh di bawah harga penawaran perdana Rp105.
Sesuai ketentuan, emiten atau pengendali diwajibkan melaksanakan pembelian kembali saham pada periode 11 Mei hingga 9 November 2026. Karena seluruh aset berada di bawah kurator, keputusan terkait aksi korporasi dan kepentingan pemegang saham publik menjadi kewenangan pengurus harta pailit.
Tren Pasar dan Perkembangan yang Perlu Dicermati Investor SBAT
Beberapa perkembangan yang menjadi sorotan investor terkait saham SBAT antara lain:
Jadwal delisting efektif pada 10 November 2026 yang semakin dekat.
Putusan pailit Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 29 Agustus 2025.
Seluruh aset perusahaan berada di bawah penguasaan kurator.
Penghentian operasional sejak Juli 2024 dan laporan keuangan terakhir kuartal III 2023.
Free float sekitar 51,52% yang melibatkan sekitar 13 ribu investor publik.
Kepemilikan PT INTI (Persero) sekitar 14% sebagai pemegang saham strategis.
Risiko dan Tantangan yang Perlu Diperhatikan Investor
Mengingat kondisi perusahaan saat ini, terdapat sejumlah risiko serius yang perlu menjadi perhatian investor:
Saham tidak dapat diperdagangkan di pasar reguler dan berada pada harga satu digit rupiah.
Status kepailitan yang menempatkan hak pemegang saham di urutan terakhir dalam pembagian aset oleh kurator.
Delisting efektif 10 November 2026 yang dapat membuat saham sulit dilepas setelahnya.
Perusahaan tidak beroperasi sejak Juli 2024 sehingga tidak memiliki arus pendapatan.
Keterbatasan informasi keuangan terbaru dan ketidakpastian realisasi buyback saham.
Insight Hari Ini untuk Investor
Dari sisi fundamental, PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk merupakan perusahaan tekstil yang pernah menjadi pemain berskala besar di industri benang daur ulang, namun kini telah berhenti beroperasi dan dinyatakan pailit. Kondisi ini menempatkan perusahaan sebagai salah satu contoh dampak krisis industri tekstil yang menekan sejumlah emiten besar.
Bagi pemegang saham publik yang masih memegang SBAT, perkembangan terpenting yang perlu dipantau adalah pelaksanaan buyback saham sebelum 10 November 2026, proses penyelesaian oleh kurator, serta pengumuman resmi Bursa Efek Indonesia. Artikel ini bersifat informatif sebagai profil perusahaan, dan investor disarankan merujuk langsung pada keterbukaan informasi resmi Bursa serta berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan.
Kesimpulan
PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT) merupakan produsen benang daur ulang asal Bandung yang berdiri sejak 2003, kini berhenti beroperasi sejak Juli 2024, dinyatakan pailit pada 29 Agustus 2025, dan dijadwalkan delisting pada 10 November 2026. Dengan status suspensi, aset di bawah kurator, dan puluhan ribu pemegang saham publik yang terdampak, SBAT menjadi contoh penting bagi investor untuk memahami risiko emiten bermasalah serta proses penghapusan pencatatan di Bursa Efek Indonesia.

