PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), atau dikenal sebagai Sritex, merupakan perusahaan tekstil terintegrasi yang berbasis di Sukoharjo, Jawa Tengah, dan pernah dikenal sebagai salah satu produsen tekstil terbesar di Asia Tenggara. Perusahaan didirikan pada 22 Mei 1978 dan merupakan bisnis keluarga Lukminto, dengan akar usaha yang bermula dari perdagangan kain di Pasar Klewer, Solo, pada pertengahan 1960-an.
Perusahaan menjalankan rantai produksi dari pemintalan, penenunan, pencelupan dan penyempurnaan, hingga garmen, termasuk memproduksi seragam untuk kebutuhan militer dan institusi di berbagai negara. Produk Sritex pernah dipasarkan ke lebih dari seratus negara sebelum perusahaan menghadapi tekanan keuangan berat yang berujung pada kepailitan.
Nama Perusahaan: PT Sri Rejeki Isman Tbk
Kode Saham: SRIL
Sektor: Barang Konsumen Non-Primer – Sub Sektor: Pakaian & Barang Mewah (Tekstil)
Tanggal IPO: 17 Juni 2013
Alamat Kantor Pusat: Jl. K.H. Samanhudi No. 88, Jetis, Sukoharjo, Jawa Tengah 57512
Website: www.sritex.co.id
Saham SRIL Bergerak di Sektor Apa?
Saham SRIL tercatat di Bursa Efek Indonesia pada sektor Barang Konsumen Non-Primer dengan sub sektor Pakaian & Barang Mewah, tepatnya pada industri tekstil. Bisnis utama perusahaan adalah produksi dan perdagangan benang, kain, dan garmen, yang pada masa jayanya menopang pendapatan melalui ekspor dan kontrak seragam skala besar.
Namun, kondisi perusahaan saat ini sangat berbeda dari masa operasionalnya. Perusahaan dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang bersama sejumlah entitas terkait, yaitu PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya, sehingga pengelolaan harta pailit berada pada kurator.
Manajemen dan Pengurus Perusahaan
Berdasarkan profil terbaru yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, informasi pengurus PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) terdiri dari:
Dewan Komisaris
Reynard Mandra Poernawan – Komisaris
Dewan Direksi
Susunan direksi aktif tidak tercantum pada profil terbaru. Dalam data kepemilikan terbaru, Iwan Setiawan tercatat sebagai mantan komisaris dan Iwan Kurniawan Lukminto sebagai mantan direktur, masing-masing dengan kepemilikan sekitar 0,5%.
Pemilik dan Pengendali Saham SRIL
Struktur pemegang saham SRIL menunjukkan bahwa pengendali perusahaan adalah PT Huddleston Indonesia dengan kepemilikan sekitar 12,07 miliar lembar saham atau setara 59,03%. Selain itu terdapat sejumlah entitas asing yang memiliki porsi signifikan, antara lain Chesney International Pte Ltd dan Grafton Capital Resources Pte Ltd.
Sisa kepemilikan tersebar pada investor publik, dengan sekitar 45.866 pemegang saham tercatat hingga akhir Maret 2026. Investor kawakan Lo Kheng Hong tercatat memegang sekitar 209,34 juta saham atau sekitar 1,02% dari saham beredar.
Sekilas Sejarah PT Sri Rejeki Isman Tbk
Perjalanan SRIL bermula dari perdagangan tekstil di Solo pada 1966 yang kemudian berkembang menjadi pabrik terintegrasi di Sukoharjo, dengan badan hukum perusahaan berdiri pada 1978. Perusahaan resmi melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia pada 17 Juni 2013 dengan harga penawaran Rp240 per saham.
Titik balik terjadi pada Mei 2021 ketika Bursa menghentikan sementara perdagangan sahamnya, kemudian perusahaan menempuh proses PKPU hingga akhirnya dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang. Setelah masa suspensi mencapai 42 bulan, Bursa memasukkannya dalam kriteria penghapusan pencatatan, dan pada 10 April 2026 menetapkan delisting efektif 10 November 2026.
Status Perdagangan dan Kinerja Pasar Terbaru
Saham SRIL saat ini berstatus suspensi perdagangan sejak 18 Mei 2021 atau lebih dari 65 bulan, dan dijadwalkan terkena penghapusan pencatatan (delisting) efektif pada 10 November 2026 setelah sekitar 13 tahun tercatat. Harga terakhir saham tercatat sekitar Rp146 per lembar, dengan kapitalisasi pasar nominal sekitar Rp2,99 triliun yang bersifat indikatif karena saham tidak dapat diperdagangkan.
Sesuai ketentuan, emiten atau pengendali diwajibkan melaksanakan pembelian kembali saham (buyback saham) pada periode 11 Mei hingga 9 November 2026. Bursa menegaskan bahwa perusahaan tetap memiliki kewajiban sebagai perusahaan tercatat hingga tanggal efektif delisting, sementara investor perlu mencermati keterbukaan informasi resmi perusahaan.
Tren Pasar dan Perkembangan yang Perlu Dicermati Investor SRIL
Beberapa perkembangan yang menjadi sorotan investor terkait saham SRIL antara lain:
Jadwal delisting efektif pada 10 November 2026 yang semakin dekat.
Kewajiban buyback saham pada periode 11 Mei hingga 9 November 2026.
Status pailit berdasarkan putusan Pengadilan Niaga Semarang.
Suspensi perdagangan sejak 18 Mei 2021 yang telah berlangsung lebih dari lima tahun.
Sekitar 45.866 pemegang saham publik yang terdampak keputusan delisting.
Kepemilikan mayoritas PT Huddleston Indonesia sebesar 59,03%.
Risiko dan Tantangan yang Perlu Diperhatikan Investor
Mengingat kondisi perusahaan saat ini, terdapat sejumlah risiko serius yang perlu menjadi perhatian investor:
Saham tidak dapat diperdagangkan di pasar reguler selama lebih dari lima tahun.
Status kepailitan yang menempatkan hak pemegang saham di urutan terakhir dalam pembagian aset oleh kurator.
Delisting efektif 10 November 2026 yang dapat membuat saham sulit dilepas setelahnya.
Ketidakpastian pelaksanaan dan nilai buyback saham oleh emiten atau pengendali.
Keterbatasan informasi terbaru mengenai susunan pengurus dan kondisi keuangan perusahaan.
Insight Hari Ini untuk Investor
Dari sisi fundamental, PT Sri Rejeki Isman Tbk merupakan salah satu contoh paling dikenal dari krisis industri tekstil nasional, di mana perusahaan besar dengan jangkauan ekspor luas tidak mampu menyelesaikan kewajiban utangnya. Kondisi tersebut membuat penilaian bisnis perusahaan kini ditentukan oleh proses kepailitan dan keputusan penghapusan pencatatan.
Bagi pemegang saham publik yang masih memegang SRIL, perkembangan terpenting yang perlu dipantau adalah pelaksanaan buyback saham sebelum 10 November 2026, proses penyelesaian oleh kurator, serta pengumuman resmi Bursa Efek Indonesia. Artikel ini bersifat informatif sebagai profil perusahaan, dan investor disarankan merujuk langsung pada keterbukaan informasi resmi Bursa serta berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan.
Kesimpulan
PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) merupakan perusahaan tekstil terintegrasi milik keluarga Lukminto yang berdiri sejak 1978, kini dinyatakan pailit dan dijadwalkan delisting pada 10 November 2026 setelah suspensi lebih dari lima tahun. Dengan puluhan ribu pemegang saham publik yang terdampak, kepemilikan mayoritas oleh PT Huddleston Indonesia, dan kewajiban buyback yang masih berjalan, SRIL menjadi contoh penting bagi investor untuk memahami risiko emiten bermasalah serta proses penghapusan pencatatan di Bursa Efek Indonesia.

