Personal Branding Edwin Soeryadjaya Presiden Komisaris Saratoga Investama Sedaya

Bukti Tak Pernah Terlambat Merintis Usaha

Personal Branding Edwin Soeryadjaya

Surabaya, StartFriday.Asia - Tak sedikit kisah sukses lahir dari kenyamanan sejak dini. Namun, perjalanan Edwin Soeryadjaya justru membuktikan bahwa keterlambatan usia bukan penghalang untuk membangun bisnis besar. Di tengah situasi keluarga yang sedang sulit dan tanpa warisan bisnis raksasa, Edwin Soeryadjaya memulai langkahnya dari nol pada usia yang oleh banyak orang dianggap “terlambat” untuk berwirausaha.

Kini, namanya dikenal sebagai pendiri PT Saratoga Investama Sedaya, sekaligus masuk dalam jajaran orang terkaya Indonesia versi Forbes. Lebih dari sekadar angka kekayaan, kisah Edwin Soeryadjaya adalah pelajaran tentang keberanian, ketahanan mental, dan strategi bisnis jangka panjang.

Memulai dari Titik Terendah: Usaha Dimulai di Usia 44 Tahun

Edwin Soeryadjaya memulai usaha secara mandiri pada usia 44 tahun, sebuah fase kehidupan yang biasanya identik dengan stabilitas, bukan eksperimen bisnis berisiko tinggi. Kondisi ini diperparah dengan situasi keluarga, di mana ayahnya, William Soeryadjaya, telah melepas seluruh saham Astra Internasional demi menutupi kewajiban Bank Summa.

Kehilangan fondasi bisnis keluarga membuat Edwin Soeryadjaya tidak memiliki “jalan pintas” menuju kesuksesan. Ia harus membangun reputasi dan kepercayaan dari awal, tanpa bergantung pada nama besar ayahnya. Inilah titik penting yang membentuk karakter profesionalnya.

Dalam konteks personal branding, fase ini menunjukkan bahwa kredibilitas Edwin Soeryadjaya dibangun dari pengalaman nyata, bukan sekadar warisan. Ia dikenal sebagai figur yang resilien dan berani mengambil risiko secara terukur. Bagi Fripipel, kisah ini menegaskan bahwa usia bukan faktor penentu utama kesuksesan, melainkan kesiapan mental dan keberanian mengambil peluang.

Momen Penentuan: Menang Tender Telkom–AriaWest

Langkah besar Edwin Soeryadjaya dimulai pada 1996 ketika ia mengikuti tender Kerja Sama Operasi antara PT Telkom dan AriaWest. Proyek ini bukan proyek kecil, dan persaingannya sangat ketat. Sekitar 50 perusahaan ikut serta, sementara hanya lima yang akan terpilih. Edwin Soeryadjaya mengakui bahwa proses memenangkan tender tersebut membutuhkan berbagai “akrobat bisnis”. Namun, di balik strategi yang agresif, ia tetap mengedepankan sikap profesional, etika kerja, dan pendekatan yang konstruktif kepada para pemangku kepentingan.

Kemenangan ini menjadi validasi awal atas kemampuannya sebagai pengusaha independen. Bukan karena latar belakang keluarga, melainkan karena kombinasi attitude positif, kerja keras, dan kecermatan membaca peluang. Bagi Fripipel, fase ini menunjukkan pentingnya reputasi, keberanian bersaing, dan kesiapan menghadapi tekanan dalam dunia bisnis.

Mendirikan Saratoga Investama: Strategi Jangka Panjang Dimulai

Personal Branding Edwin Soeryadjaya

Kesuksesan di proyek Telkom menjadi batu loncatan bagi Edwin Soeryadjaya untuk mendirikan Saratoga Investama Sedaya pada 1998. Perusahaan ini tidak dibangun sebagai kendaraan spekulatif, melainkan sebagai holding investasi jangka panjang. Saratoga dikenal dengan pendekatan aktif dalam menyehatkan perusahaan portofolionya. Edwin tidak sekadar menanam modal, tetapi juga terlibat dalam strategi, tata kelola, dan pengembangan bisnis.

Pendekatan ini membedakan Saratoga dari banyak perusahaan investasi lain. Fokusnya bukan hanya pertumbuhan cepat, tetapi juga keberlanjutan dan nilai jangka panjang. Dalam personal branding, Edwin Soeryadjaya diposisikan sebagai investor strategis yang sabar, disiplin, dan visioner—bukan sekadar pemburu keuntungan instan.

Baca Juga: Personal Branding Sigit Priawan Djokosoetono, Wakil Direktur Utama PT Blue Bird Tbk

Adaro Energy: Bukti Kepiawaian Membesarkan Nilai Perusahaan

Salah satu tonggak terbesar dalam perjalanan bisnis Edwin Soeryadjaya adalah keterlibatannya di Adaro Energy. Pada 2005, bersama mitra bisnis seperti Benny Subianto, Edwin Soeryadjaya mengakuisisi 40 persen saham Adaro dengan modal sekitar US$40 juta. Keputusan ini terbukti sangat strategis. Seiring pertumbuhan bisnis Adaro, nilai investasi Saratoga melonjak signifikan. Saat ini, Saratoga masih menggenggam 15,2 persen saham Adaro dengan valuasi mencapai Rp18,69 triliun.

Tahun lalu, dividen dari Adaro menyumbang Rp1,9 triliun dan mendorong lonjakan pendapatan dividen Saratoga sebesar 57 persen menjadi Rp2,59 triliun. Angka ini melampaui ekspektasi banyak pelaku pasar. Bagi Fripipel, kisah ini menegaskan pentingnya visi jangka panjang dan kemampuan membaca fundamental bisnis, bukan sekadar mengikuti tren.

Usia, Reputasi, dan Strategi

Perjalanan Edwin Soeryadjaya memberikan pelajaran penting bahwa kesuksesan tidak selalu datang dari awal yang ideal. Usia, latar belakang, bahkan kegagalan keluarga bukanlah batas akhir, melainkan konteks pembentuk karakter.

Personal branding Edwin Soeryadjaya dibangun dari konsistensi, keberanian mengambil keputusan besar, serta kemampuannya menciptakan nilai nyata bagi perusahaan yang ia kelola. Ia tidak tampil sebagai figur flamboyan, melainkan sebagai profesional yang kredibel dan terukur.

Bagi Fripipel yang sedang atau ingin merintis usaha, kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Yang terpenting adalah kesiapan mental, strategi yang matang, dan komitmen jangka panjang dalam membangun bisnis maupun reputasi diri.

Baca Juga: Personal Branding Sigit Priawan Djokosoetono, Wakil Direktur Utama PT Blue Bird Tbk

Previous
Previous

Instaperfect Finally Did It: Produk Terbarunya Bikin Makeup Auto Skinlike-Look!

Next
Next

Top Brand Terbaik Sustainability Branding, Strategi Kunci Sukses Fripipel