Dari Generasi ke Generasi, Apa yang Membuat Konsumen Tetap Memilih Rose Brand?

Surabaya, Start Friday Asia — Rose Brand tetap dipilih lintas generasi karena sejak akhir 1970-an hadir sebagai pelopor tepung beras dan tepung ketan kemasan berkadar air rendah, lalu menjaga mutu, ketersediaan, dan kedekatan dengan dapur rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner. Merek ini kini menaungi tepung beras, tepung ketan, tapioka, maizena, minyak goreng, bihun, gula cair, hingga gula premium. Di kategori tepung beras, indeks Top Brand mencatat Rose Brand naik menjadi 79,9 persen pada 2024 dari 70,5 persen pada 2023. Bagi fripipel yang penasaran mengapa nama ini tetap ada di lemari dapur ibu dan nenek.

Apa yang Membuat Konsumen Tetap Memilih Rose Brand dari Generasi ke Generasi?

Alasan pertama adalah cerita asalnya yang sederhana. Situs resmi Rose Brand menyebut merek ini hadir di penghujung dekade 1970-an dari pengamatan terhadap para pembuat kue dan masakan tradisional yang setiap hari harus menggiling beras dan ketan. Hasil gilingan itu kurang praktis dan cepat rusak karena kadar airnya tinggi, sehingga Rose Brand menawarkan tepung kemasan yang lebih awet.

Alasan kedua adalah jangkauan produk yang terus melebar tanpa meninggalkan akar. Dari tepung beras dan ketan, portofolio berkembang ke gula, minyak, santan kelapa, dan bihun. Situs resminya juga menyebut bahwa produk-produk tersebut bersertifikat Halal dan BPOM, sehingga rasa aman menjadi bagian dari citra.

Beberapa elemen yang membentuk kesetiaan konsumen antara lain:

  • Tepung beras dan tepung ketan berkadar air rendah yang tahan lama.

  • Pilihan produk lengkap, mulai dari tapioka dan maizena hingga minyak goreng, bihun, dan gula cair.

  • Sertifikasi Halal MUI dan izin edar BPOM RI yang tercantum pada materi resmi.

  • Pelatihan membuat kue dan masakan untuk kelompok PKK, dharma wanita, dan masyarakat umum yang dapat diminta melalui tim demo.

Rose Brand juga menawarkan kegunaan yang menyentuh kebutuhan khusus. Situs resmi menyebut tepung beras dan tepung ketan dapat menjadi bahan substitusi bagi penderita autisme yang tidak boleh mengonsumsi tepung terigu. Dalam kerangka brand loyalty, kombinasi cerita asal, mutu yang konsisten, dan manfaat praktis inilah yang membuat konsumen tidak mudah berpindah.

Siapa Saja yang Berada di Balik dan Setia pada Rose Brand?

Pihak pertama adalah Sungai Budi Group sebagai induk. Kelompok usaha ini disebut didirikan di Lampung pada 1947, tidak lama setelah Indonesia merdeka. Salah satu perusahaan di dalamnya, PT Budi Starch and Sweetener Tbk, tercatat di bursa dan memproduksi tapioka, glukosa, fruktosa, dan maltodekstrin berbahan singkong.

Pihak kedua adalah produsen yang berbeda untuk produk yang berbeda. Situs Rose Brand menyebut tepung beras diproduksi PT Budi Makmur Perkasa dan tapioka diproduksi PT Budi Starch and Sweetener. Media juga mencatat tepung beras Rose Brand diproduksi oleh PT Alu Aksara Pratama di Mojokerto, Jawa Timur, dengan karakter yang disebut lebih renyah untuk gorengan seperti rempeyek.

Pihak ketiga adalah pemegang saham dan pertanyaan soal kepemilikan. Akurat menjelaskan bahwa per 31 Maret 2020, pemegang saham produsen Rose Brand adalah PT Sungai Budi 26,7 persen, PT Budi Delta Swakarya 31,15 persen, dan masyarakat 42,15 persen, dan menyimpulkan Rose Brand bukan produk Unilever. Angka ini berasal dari periode yang cukup lama sehingga susunan terbaru perlu dicek pada laporan resmi perusahaan.

Pihak keempat adalah konsumen setianya. Liputan6 pada pemberitaan lama mengutip survei Majalah Marketing dan Frontier Consulting Group yang menyebut Rose Brand sebagai merek yang paling banyak dipakai ibu rumah tangga dan pengusaha makanan. Seorang pemilik usaha pisang goreng di Jakarta Utara saat itu menyebut mampu menjual sekitar 3.000 potong per hari dengan tepung beras Rose Brand yang harganya stabil dan mudah didapat.

Kapan Rose Brand Dibangun dan Bagaimana Kepercayaannya Terjaga?

Perjalanan Rose Brand berakar pada sejarah kelompok usahanya. Sungai Budi Group didirikan pada 1947, sementara merek Rose Brand muncul pada akhir 1970-an sebagai pelopor tepung beras dan ketan. Sejak itu, merek ini hadir dalam banyak momen kuliner, dari dapur keluarga hingga acara besar.

Situs resmi mencatat sejumlah pengakuan publik. Rose Brand menerima Top Brand Award pada rentang 2008 sampai 2015 menurut halaman tentang kami, dan memecahkan rekor MURI, termasuk replika Candi Borobudur dari rangkaian jajan pasar terbanyak sebanyak 52.200 potong. Rekor lain yang tercantum adalah kue berbentuk Tugu Pahlawan setinggi 23,99 meter pada 1989.

Beberapa tonggak waktu penting dapat dirangkum sebagai berikut:

  • 1947: Sungai Budi Group didirikan di Lampung.

  • Akhir 1970-an: Rose Brand hadir sebagai pelopor tepung beras dan tepung ketan kemasan.

  • 2008 sampai 2015: Rose Brand menerima Top Brand Award menurut situs resminya.

  • 2021 sampai 2024: indeks Top Brand kategori tepung beras berada pada 73,8, 70,4, 70,5, dan 79,9 persen.

  • 25 Mei 2022: Budi Starch and Sweetener menyiapkan belanja modal hingga Rp100 miliar, sebagian besar untuk pemeliharaan 16 pabrik.

Data terakhir menunjukkan bahwa kepercayaan tidak statis. Indeks sempat turun pada 2022 sebelum naik tajam pada 2024, sementara kolom 2025 pada situs Top Brand belum menampilkan angka. Fripipel sebaiknya membaca grafik ini sebagai gambaran umum, karena metodologi dan kategori survei dapat berubah dari tahun ke tahun.

Baca juga: Orang Tua Group: Strategi Membangun Loyalitas Konsumen melalui Inovasi dan Konsistensi Brand

Di Mana Rose Brand Diproduksi dan Digunakan?

Produksi tersebar di beberapa wilayah. Basis data perusahaan induk menyebut pabrik tapioka di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah, dengan 12 pabrik tapioka di Lampung berkapasitas 705.000 ton per tahun. Pada Mei 2022, Bisnis melaporkan BUDI memiliki 16 pabrik tapioka berkapasitas 885.000 ton per tahun dan empat pabrik pemanis berkapasitas 291.600 ton per tahun.

Tepung beras dari dua pabrik berbeda juga menambah cerita lokasi. PT Budi Makmur Perkasa berfasilitas utama di Lampung, sedangkan PT Alu Aksara Pratama berlokasi di Mojokerto. Ulasan media menyebut tepung dari PT ALU dianggap lebih cocok untuk gorengan renyah, sedangkan dari PT BUDI lebih pas untuk kue basah seperti kue lapis, nagasari, atau serabi.

Di sisi penggunaan, Rose Brand hadir di dapur rumah tangga, usaha kecil, katering, dan restoran. Situs resminya menyebut distribusi luas di berbagai wilayah Indonesia, sedangkan Liputan6 mencatat gula Rose Brand juga dipakai banyak restoran. Kehadiran di berbagai rantai ini memperkuat citra sebagai bahan yang dapat dipakai dari skala rumah hingga bisnis.

Dari sudut pandang brand loyalty, ketersediaan menjadi alasan penting. Konsumen setia cenderung bertahan pada merek yang selalu ada ketika dibutuhkan, dan Rose Brand memanfaatkan jaringan produksi serta distribusi untuk memenuhi ekspektasi itu.

Mengapa Rose Brand Mampu Mempertahankan Loyalitas Konsumennya?

Pertama, merek ini membangun kebiasaan, bukan sekadar penjualan. Pelatihan untuk kelompok PKK dan dharma wanita, serta sponsor acara kuliner yang disebut Liputan6, membuat Rose Brand dikenal lewat pengalaman memasak bersama. Kebiasaan yang diwariskan dari ibu ke anak lebih sulit digantikan oleh promosi sesaat.

Kedua, mutu yang konsisten dan harga yang relatif stabil menurut pengakuan pelaku usaha menciptakan kepercayaan. Bagi pembuat kue yang bergantung pada tekstur adonan, pergantian bahan bisa berisiko, sehingga mereka cenderung bertahan pada merek yang sudah teruji. Data Top Brand 79,9 persen pada 2024 mendukung kesan bahwa merek ini masih berada di benak konsumen.

Ketiga, brand meluaskan manfaat tanpa mengubah janji utamanya. Dari tepung bebas terigu untuk kebutuhan diet khusus hingga gula, minyak, dan bihun, setiap produk tetap berada dalam kerangka bahan dapur Nusantara. Strategi ini membuat konsumen merasa satu merek dapat memenuhi banyak kebutuhan.

Keempat, ada catatan yang layak dikritisi. Karena tepung beras diproduksi dua perusahaan dengan karakter yang disebut sedikit berbeda, konsumen bisa merasakan hasil yang tidak persis sama antarkemasan. Bagi merek yang menjual konsistensi, kejelasan informasi tentang perbedaan ini penting agar loyalitas tidak tergerus kebingungan.

Bagaimana Rose Brand Menjaga Loyalitas Konsumen ke Depan?

Pertama, konsistensi mutu perlu tetap menjadi prioritas. Dengan pabrik dan produsen yang tersebar, standar pengolahan, kadar air, dan tekstur harus dijaga seragam sehingga hasil masakan tidak berubah. Informasi yang jelas pada kemasan tentang kegunaan terbaik, seperti untuk gorengan renyah atau kue basah, akan membantu konsumen memilih.

Kedua, komunikasi dengan generasi muda perlu diperkuat. Pelatihan dan resep yang selama ini menjangkau ibu-ibu dapat diperluas melalui konten digital, kelas daring, dan kemitraan dengan kreator kuliner. Dengan begitu, nama Rose Brand tetap hadir ketika generasi baru mulai memasak.

Ketiga, transparansi tentang produsen dan sertifikasi perlu dijaga. Pertanyaan konsumen soal kepemilikan dan asal produk, seperti isu apakah merek ini milik perusahaan multinasional, menunjukkan bahwa informasi yang mudah ditemukan membantu menjaga kepercayaan. Data kepemilikan terbaru sebaiknya ditampilkan secara terbuka pada kanal resmi.

Keempat, inovasi produk harus tetap berpijak pada kebutuhan dapur Indonesia. Pengembangan gula premium, minyak goreng, dan produk turunan lain dapat terus berjalan selama selaras dengan citra bahan pangan tepercaya. Investasi pemeliharaan pabrik seperti belanja modal Rp100 miliar pada 2022 menunjukkan bahwa menjaga fasilitas sama pentingnya dengan menambah produk baru.

Pada akhirnya, kekuatan Rose Brand terletak pada kemampuannya menjadi bagian dari kebiasaan memasak yang diwariskan, bukan sekadar pilihan di rak toko. Bagi fripipel yang ingin memahami brand loyalty, kisah ini menunjukkan bahwa loyalitas lintas generasi lahir ketika mutu, ketersediaan, dan kedekatan dengan dapur dijaga konsisten dari waktu ke waktu.

Data & Statistik

Strategi Brand Loyalty Rose Brand
Indikator Data / Informasi
Sejarah Brand Rose Brand hadir sejak akhir 1970-an sebagai pelopor tepung beras dan tepung ketan kemasan yang lebih praktis dan tahan lama.
Induk Perusahaan Rose Brand berada di bawah Sungai Budi Group, kelompok usaha yang didirikan di Lampung pada 1947.
Produk Utama Tepung beras dan tepung ketan menjadi produk awal, kemudian berkembang ke tapioka, maizena, minyak goreng, bihun, gula cair, dan produk lainnya.
Kualitas Produk Mutu, kadar air, tekstur, dan daya tahan produk menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan konsumen.
Jangkauan Konsumen Digunakan oleh rumah tangga, usaha kecil, katering, dan restoran untuk berbagai kebutuhan memasak.
Ketersediaan Produk Jaringan produksi dan distribusi yang luas membantu menjaga produk tetap mudah ditemukan ketika dibutuhkan konsumen.
Kedekatan dengan Konsumen Pelatihan membuat kue dan masakan untuk kelompok PKK, dharma wanita, serta masyarakat umum membantu membangun pengalaman dan kebiasaan menggunakan produk.
Data Brand Awareness Indeks Top Brand kategori tepung beras tercatat 79,9% pada 2024, meningkat dari 70,5% pada 2023.
Tantangan Brand Perbedaan produsen tepung beras dapat menghasilkan karakter produk yang sedikit berbeda, sehingga informasi kegunaan dan asal produk perlu disampaikan dengan jelas.
Brand Loyalty Loyalitas Rose Brand dibangun melalui mutu yang konsisten, ketersediaan, manfaat praktis, dan kebiasaan memasak yang diwariskan lintas generasi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Ingin Brand Loyalty Fripipel Se-Kuat Rose Brand?

Jika Fripipel ingin:

  • Membangun kepercayaan konsumen melalui kualitas produk dan pengalaman yang konsisten.

  • Menjadikan produk bagian dari kebiasaan konsumen, bukan sekadar pilihan sesaat.

  • Memperluas portofolio tanpa kehilangan identitas dan janji utama brand.

  • Menjaga ketersediaan produk agar konsumen mudah menemukannya saat dibutuhkan.

  • Memperkuat kedekatan dengan konsumen melalui edukasi, pengalaman, dan komunikasi yang relevan.

Maka Fripipel membutuhkan strategi branding yang terintegrasi.

Saatnya produk Fripipel tidak hanya dikenal, tetapi juga menjadi pilihan utama di pasar melalui product Branding yang tepat.

Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consultingmembantu brand berkembang melalui:

  • Branding & positioning strategy

  • Website dan landing page berbasis SEO

  • Content strategy yang relevan dengan tren

  • Digital campaign untuk meningkatkan exposure

Pastikan brand Fripipel berkembang bersama Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consulting. Integrasikan layanan Business Consultingserta Brand Strategy Consulting untuk menciptakan product Branding yang lebih kuat, kompetitif, dan berkelanjutan.

Baca juga :

Rian Kurniawan - Start Friday Asia Brand and Business Strategy Consulting

Helps Your Business Grow Meaningfully. Since 2012, we've been helping luxury and premium businesses, from boutique hotels to fashion brands, build strong identities and strategies that generate real growth. Now with AI powered insights for faster, more informed decisions.

https://startfriday.asia
Previous
Previous

Bimoli Bukan Sekadar Minyak Goreng, Ini Strategi Brand yang Membuatnya Mudah Diingat

Next
Next

Bentuknya Sederhana, tetapi Mengapa Oreo Punya Strategi Marketing yang Begitu Kuat?