Surabaya, Start Friday Asia — Oreo pada dasarnya hanyalah dua keping biskuit cokelat dengan krim putih di tengahnya, bentuk yang nyaris tidak berubah sejak 1912. Namun biskuit sesederhana itu tercatat sebagai merek biskuit dengan penjualan tertinggi di dunia sejak 2014 dan hadir di lebih dari seratus negara. Bagi fripipel yang bekerja di bidang pemasaran atau sekadar penasaran mengapa satu camilan bisa begitu melekat di ingatan, kasus Oreo memberi banyak pelajaran.
Apa Saja Unsur Strategi Marketing Oreo yang Membuatnya Begitu Kuat?
Unsur pertama adalah produk inti yang dijaga tetap konsisten. Biskuit Oreo asli berubah sangat sedikit selama lebih dari satu abad, sementara inovasi dilakukan di sekelilingnya dalam bentuk ukuran, varian rasa, dan edisi terbatas. Pendekatan ini membuat orang selalu mengenali produknya, sedangkan variasi di sekitarnya memberi alasan untuk membicarakan merek ini lagi dan lagi.
Unsur kedua adalah ritual yang menjadi identitas. Slogan twist, lick, dunk, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai diputar, dijilat, dicelupin, mengajarkan cara menikmati Oreo sehingga cara memakai produk berubah menjadi bagian dari merek. Ritual semacam ini mudah diingat, mudah ditiru anak-anak, dan mudah dijadikan materi kampanye.
Unsur ketiga adalah kecepatan merespons budaya. Pada 2013, Oreo mencuri perhatian lewat satu cuitan saat stadion Super Bowl padam, dan sejak itu strategi real-time marketing sering dikaitkan dengan merek ini. Unsur keempat adalah kolaborasi dan stunt, mulai dari mesin pencetak kue tiga dimensi hingga brankas biskuit di Svalbard.
Beberapa angka dan program yang menunjukkan skala strategi tersebut antara lain:
Pendapatan tahunan yang disebut melampaui 4 miliar dolar Amerika, dengan penjualan di lebih dari 100 negara.
Sekitar 40 miliar keping Oreo diproduksi setiap tahun secara global menurut laporan perusahaan pada 2017.
Kampanye Daily Twist 2012 yang disebut meraih 433 juta tayangan di Facebook.
Kolaborasi dengan nama besar seperti Lady Gaga, Post Malone, Selena Gomez, Marvel, dan Supreme.
Kombinasi produk yang stabil, ritual yang khas, dan konten yang selalu segar inilah yang membuat Oreo tampak sederhana di rak toko tetapi kompleks di balik layar pemasarannya.
Siapa Saja Pihak di Balik Oreo dan Siapa Pasar yang Dibidik?
Pihak pertama adalah Nabisco, perusahaan yang meluncurkan Oreo pada 1912. Pada awalnya Oreo adalah produk pengikut, karena Hydrox, biskuit sandwich serupa, sudah lebih dulu beredar empat tahun sebelumnya. Kisah ini menarik karena menunjukkan bahwa pemimpin pasar yang sekarang tidak selalu pelopor pertama.
Pihak kedua adalah Mondelez International, perusahaan yang memiliki Oreo sejak 2012 setelah Kraft Foods memisahkan diri. Di bawah naungannya, Oreo tumbuh menjadi merek global dengan pabrik di banyak negara, termasuk Indonesia, yang dikelola oleh PT Mondelez Indonesia Manufacturing.
Pihak ketiga adalah tim pemasaran dan agensi yang menjalankan kampanye. Cuitan terkenal pada 2013 tidak muncul kebetulan, karena Oreo menyiapkan ruang komando berisi tim merek dan agensi yang berjaga khusus untuk membuat konten secara langsung saat Super Bowl berlangsung.
Pihak keempat adalah konsumen. Menurut ulasan strategi pemasaran, sebagian besar komunikasi Oreo ditujukan kepada orang dewasa, karena Mondelez tidak beriklan di media yang ditujukan bagi anak di bawah 13 tahun. Meski begitu, ritual twist, lick, dunk tetap lekat dengan keluarga dan anak-anak sebagai pengguna utama di rumah.
Kapan Titik Balik Strategi Marketing Oreo Terjadi?
Oreo pertama kali dijual pada 6 Maret 1912 kepada sebuah toko kelontong di Hoboken, New Jersey, dan namanya didaftarkan sebagai merek dagang pada 14 Maret 1912. Hampir enam dekade berikutnya, slogan Milk's Favorite Cookie mulai muncul dan menjadi salah satu slogan terlama dalam sejarah periklanan.
Titik balik besar terjadi pada abad ke-21. Pada 2012, perayaan seratus tahun diwujudkan lewat Daily Twist, kampanye seratus iklan dalam seratus hari. Setahun kemudian cuitan saat Super Bowl XLVII menjadi contoh klasik pemasaran waktu nyata.
Beberapa tonggak waktu penting dapat dirangkum sebagai berikut:
1912: Oreo diluncurkan dan didaftarkan sebagai merek dagang.
Era 1980-an: Slogan twist, lick, dunk mulai dipakai untuk mengajarkan cara menikmati Oreo.
1994: Oreo mulai dikenal dan diproduksi di Indonesia.
2012: Mondelez memiliki Oreo dan kampanye Daily Twist digelar.
3 Februari 2013: Cuitan You can still dunk in the dark dikirim saat pemadaman listrik 34 menit di Super Bowl XLVII.
2014: Oreo menjadi merek biskuit dengan penjualan tertinggi di dunia.
11 April 2025: Kampanye Oreo Space Dunk meluncurkan biskuit buatan Indonesia ke luar angkasa.
Runtutan ini menunjukkan bahwa Oreo tidak membangun kekuatannya dalam satu kampanye, melainkan lewat rangkaian langkah konsisten selama lebih dari satu abad.
Di Mana Oreo Menjalankan Strategi Pemasarannya?
Oreo hadir di banyak panggung sekaligus. Di televisi, merek ini membeli tempat iklan pertamanya di dalam siaran Super Bowl pada 2013 lewat iklan berjudul Whisper Fight. Di media sosial, Oreo membangun kebiasaan membuat konten harian, dan di dunia nyata, merek ini menghadirkan stunt seperti pencetak kue tiga dimensi yang digerakkan cuitan pada 2014.
Di tingkat global, Oreo menyesuaikan produk dengan pasar setempat. Salah satu ulasan mencatat bahwa rasa asli terlalu manis bagi selera di Tiongkok sehingga resepnya perlu disesuaikan, sementara ritual twist dan dunk tidak otomatis cocok secara budaya. Contoh ini memperlihatkan bahwa strategi global tetap membutuhkan adaptasi lokal.
Di Indonesia, Oreo diproduksi di pabrik Mondelez di Cikarang sejak 1994, dengan lebih dari 1.500 karyawan dan ekspor ke sekitar 40 negara. Kampanye Space Dunk diluncurkan dari Nimo Highlands di Pangalengan, Bandung, sebagai bagian dari program Oreo Berbagi Serunya Berilmu, dan varian Oreo Spaceburst Cream dengan lima desain embos bertema galaksi menyertainya.
Pabrik di Cikarang juga menjadi bagian dari cerita merek. Selama tiga dekade, Indonesia bukan hanya pasar, tetapi juga pusat produksi strategis bagi Oreo, sehingga kampanye yang menyorot kebanggaan buatan Indonesia terasa punya dasar fakta yang kuat.
Mengapa Strategi Oreo Begitu Efektif dari Sudut Pandang Product Branding?
Strategi Oreo efektif karena menjaga pusat merek tetap tetap sambil mengubah tepinya. Dari sudut pandang product branding, biskuit asli adalah jangkar identitas, sedangkan edisi terbatas, kolaborasi, dan ukuran baru menjadi bahan bakar perhatian. Edisi terbatas menjual kebaruan dan kelangkaan, namun pada akhirnya ikut menyegarkan minat terhadap biskuit aslinya.
Ritual penggunaan juga menjadi pembeda yang sulit ditiru. Ketika sebuah merek berhasil menjadikan cara makan sebagai bagian dari identitasnya, pesaing yang menjual biskuit mirip tetap sulit mengambil ruang di ingatan konsumen. Itulah sebabnya twist, lick, dunk dikenang lebih lama daripada banyak slogan yang hanya menyebut manfaat produk.
Kecepatan dan relevansi budaya menambah lapisan berikutnya. Cuitan saat Super Bowl, yang disebut hampir 15.000 kali dibagikan ulang dan menambah pengikut Oreo di berbagai platform, menunjukkan bahwa momen yang tepat dapat lebih berdampak daripada iklan berbiaya besar. Syaratnya adalah merek sudah memiliki audiens, identitas visual yang jelas, dan tim yang siap bergerak dalam hitungan menit.
Catatan penting untuk pembaca adalah bahwa sebagian angka dalam ulasan pemasaran berasal dari blog dan laporan pihak ketiga, bukan dari audit independen. Meski begitu, kesesuaian banyak sumber tentang pola strategi Oreo membuat gambaran besarnya cukup kuat. Bagi fripipel yang ingin belajar, kuncinya bukan meniru satu kampanye, melainkan memahami pola yang berulang di balik semuanya.
Bagaimana Pelajaran dari Oreo Dapat Diterapkan pada Merek Lain?
Langkah pertama adalah menentukan produk inti yang tidak boleh berubah. Merek yang terus mengubah produk utamanya akan sulit dikenali, sedangkan merek yang menjaga satu hal tetap konsisten lalu berinovasi di sekitarnya memiliki jangkar yang membuat setiap inovasi terasa masih milik merek yang sama.
Langkah kedua adalah mengubah cara memakai produk menjadi ritual. Cari kebiasaan sederhana yang bisa diajarkan, diulang, dan dibagikan, sehingga konsumen merasa memiliki cara khas dalam menikmati produk. Ritual yang mudah ditiru adalah modal yang bekerja tanpa perlu biaya iklan besar setiap kali.
Langkah ketiga adalah menyiapkan kemampuan merespons momen. Bentuk tim kecil yang boleh mengambil keputusan cepat, tetapkan batas pesan yang aman bagi merek, dan latih tim membuat konten visual sederhana. Respons cepat yang sembarangan dapat merugikan, sehingga persiapan jauh lebih penting daripada kebetulan.
Langkah keempat adalah melokalkan tanpa kehilangan jati diri. Kampanye Space Dunk di Indonesia, yang menyorot biskuit buatan Cikarang dan menyisipkan program berbagi, menunjukkan bahwa kebanggaan lokal dapat dipadukan dengan identitas global. Pada akhirnya, kekuatan strategi Oreo terletak pada konsistensi produk, ritual, kecepatan, dan adaptasi, dan bagi fripipel yang membangun merek sendiri, keempat hal itu dapat dimulai dari skala kecil sebelum diperbesar.
Data & Statistik
| Strategi | Contoh / Penerapan |
|---|---|
| Konsistensi Produk | Mempertahankan karakter biskuit cokelat dan krim putih, sambil menghadirkan inovasi melalui varian rasa, ukuran, dan edisi terbatas. |
| Ritual Konsumsi | Melalui slogan twist, lick, dunk, Oreo menjadikan cara menikmati produk sebagai bagian dari identitas merek. |
| Real-Time Marketing | Cuitan “You can still dunk in the dark” saat pemadaman listrik Super Bowl pada 2013 menjadi contoh respons cepat terhadap momen budaya. |
| Kampanye Kreatif | Daily Twist 2012 menghadirkan 100 konten dalam 100 hari untuk merayakan 100 tahun Oreo. |
| Kolaborasi dan Stunt | Kolaborasi dengan nama besar seperti Lady Gaga, Post Malone, Selena Gomez, Marvel, dan Supreme, serta aktivasi kreatif seperti pencetak kue 3D. |
| Adaptasi Lokal | Menyesuaikan produk dan komunikasi dengan preferensi pasar setempat, tanpa meninggalkan identitas utama Oreo. |
| Kebanggaan Lokal | Kampanye Space Dunk menyorot Oreo buatan Indonesia dari pabrik Cikarang dan menghadirkan varian Spaceburst Cream bertema galaksi. |
| Product Branding | Menjaga produk inti tetap mudah dikenali, sementara inovasi, ritual konsumsi, kolaborasi, dan kampanye memperbarui perhatian konsumen. |
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
-
Oreo mengandalkan konsistensi produk, ritual konsumsi, real-time marketing, kolaborasi, dan adaptasi lokal.
-
Oreo diluncurkan oleh Nabisco dan kini dimiliki oleh Mondelez International.
-
Momentum penting terjadi pada 2012 melalui kampanye Daily Twist dan pada 2013 lewat cuitan saat Super Bowl.
-
Oreo memasarkan produknya secara global melalui media sosial, televisi, kolaborasi, aktivasi kreatif, dan kampanye lokal, termasuk di Indonesia.
-
Karena Oreo menjaga identitas produk tetap konsisten sambil menghadirkan inovasi dan konten yang relevan dengan budaya serta momen konsumen.
-
Dengan menjaga produk inti, membangun ritual konsumsi, merespons momen secara tepat, dan menyesuaikan kampanye dengan pasar lokal.
Ingin Product Branding Fripipel Se-Kuat Oreo?
Jika Fripipel ingin:
Menjaga identitas produk agar mudah dikenali, sambil terus menghadirkan inovasi yang relevan.
Mengubah cara konsumen menggunakan produk menjadi ritual khas yang melekat pada merek.
Memanfaatkan momen budaya dan tren melalui strategi real-time marketing yang tepat.
Mengembangkan kolaborasi dan kampanye kreatif untuk menjaga perhatian konsumen.
Menyesuaikan strategi dengan pasar lokal tanpa kehilangan karakter utama brand.
Maka Fripipel membutuhkan strategi branding yang terintegrasi.
Saatnya produk Fripipel tidak hanya dikenal, tetapi juga menjadi pilihan utama di pasar melalui product Branding yang tepat.
Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consultingmembantu brand berkembang melalui:
Branding & positioning strategy
Website dan landing page berbasis SEO
Content strategy yang relevan dengan tren
Digital campaign untuk meningkatkan exposure
Pastikan brand Fripipel berkembang bersama Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consulting. Integrasikan layanan Business Consultingserta Brand Strategy Consulting untuk menciptakan product Branding yang lebih kuat, kompetitif, dan berkelanjutan.
Baca juga :

