Tunjungan Plaza Menjadi Bagian dari Perjalanan Modernisasi Kota Surabaya

Surabaya, Start Friday Asia — Tunjungan Plaza bukan sekadar pusat perbelanjaan biasa bagi warga Surabaya. Selama hampir empat dekade, gedung yang berdiri di jantung kota ini telah menjadi saksi sekaligus pelaku dalam pembentukan identitas Surabaya sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia. Bagi fripipel yang tumbuh besar di Surabaya, nama Tunjungan Plaza hampir selalu melekat dengan kenangan kolektif, mulai dari akhir pekan bersama keluarga hingga momen pertama kali mengenal konsep mal modern. Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan Tunjungan Plaza melalui kerangka 5W 1H, agar fripipelmemahami bagaimana sebuah bangunan komersial bisa berevolusi menjadi ikon kekuatan sejarah dan identitas kota.

Apa yang Membuat Tunjungan Plaza Begitu Penting bagi Identitas Surabaya?

Tunjungan Plaza adalah kompleks superblok yang terdiri dari enam mal terintegrasi, yaitu Tunjungan Plaza 1 hingga 6, yang dikembangkan oleh PT Pakuwon Jati Tbk. Kompleks ini menempati lahan seluas lebih dari 175.000 meter persegi dengan lebih dari 600 gerai ritel, restoran, department store, hingga bioskop. Dari sisi place branding, ukuran dan skala semacam ini bukan hanya soal kapasitas komersial, melainkan juga simbol kemajuan sebuah kota yang berhasil menghadirkan fasilitas urban setara kota-kota besar dunia pada masanya.

Yang membuat Tunjungan Plaza istimewa bukan hanya luasnya, melainkan statusnya sebagai pusat perbelanjaan modern pertama di Surabaya. Sebelum kehadirannya, konsep berbelanja masyarakat Surabaya masih didominasi oleh pasar tradisional dan pertokoan di sepanjang Jalan Tunjungan. Kehadiran Tunjungan Plaza mengubah cara warga kota berinteraksi dengan ruang publik dan aktivitas konsumsi, menjadikannya penanda babak baru dalam sejarah urban Surabaya.

Beberapa elemen yang membentuk kekuatan identitas Tunjungan Plaza antara lain:

  • Luas lantai kotor mencapai lebih dari 360.000 meter persegi, menjadikannya salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jawa Timur.

  • Enam menara mal yang saling terhubung, yaitu TP 1, TP 2, TP 3, TP 4, TP 5, dan TP 6.

  • Perpaduan tenant lokal dan merek internasional, mulai dari Matahari Department Store, Sogo, hingga Hugo Boss dan Tory Burch.

  • Fasilitas pendukung seperti hotel, apartemen, dan perkantoran yang menjadikannya kawasan mixed-use.

Kombinasi elemen-elemen tersebut menjadikan Tunjungan Plaza bukan sekadar tempat belanja, melainkan sebuah ekosistem urban yang mencerminkan wajah Surabaya modern tanpa melupakan akar historisnya di kawasan Jalan Tunjungan yang legendaris.

Siapa Saja Pihak yang Membentuk Perjalanan Sejarah Tunjungan Plaza?

Sosok sentral di balik berdirinya Tunjungan Plaza adalah Alexander Tedja, pengusaha yang mendirikan Pakuwon Jati pada 20 September 1982. Ia adalah figur yang melihat peluang besar di tengah pertumbuhan ekonomi Surabaya pada pertengahan 1980-an, dan memutuskan untuk membangun sebuah pusat perbelanjaan berskala besar yang saat itu belum pernah ada di kota tersebut. Keputusan ini terbukti menjadi tonggak penting, karena Pakuwon Jati kemudian tumbuh menjadi salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia dan menjadi perusahaan properti pertama yang tercatat di Bursa Efek Jakarta pada 1989.

Selain sosok pengembang, keberhasilan pembangunan Tunjungan Plaza juga tidak lepas dari tangan-tangan profesional di baliknya. Desain bangunan digarap oleh arsitek dari PT Parama Consultant Jakarta yang berkolaborasi dengan Peddle Thorp and Walker dari Australia, serta tim dari Singapura, Hong Kong, Inggris, dan Amerika Serikat. Sementara konstruksinya dikerjakan oleh PT Kardi General Contractors Internasional, melibatkan sekitar 1.900 pekerja selama satu setengah tahun masa pembangunan.

Namun, pihak yang tidak kalah penting dalam membentuk identitas Tunjungan Plaza adalah masyarakat Surabaya sendiri. Warga kotalah yang pada akhirnya memberi makna sosial pada gedung ini, menjadikannya tempat berkumpul, merayakan momen, dan menghabiskan waktu luang lintas generasi. Tanpa partisipasi fripipel sebagai pengunjung setia selama puluhan tahun, Tunjungan Plaza tidak akan memiliki nilai emosional dan historis sekuat sekarang.

Di sisi lain, ratusan tenant dan merek yang mengisi gerai-gerainya turut berperan membentuk citra Tunjungan Plaza dari waktu ke waktu. Kehadiran nama-nama besar seperti Sogo, Matahari, hingga jenama mewah seperti Dior dan Omega menunjukkan bagaimana Tunjungan Plaza berhasil menyesuaikan diri dengan pergeseran selera pasar tanpa kehilangan karakter aslinya sebagai pusat gaya hidup kota.

Kapan Momentum-Momentum Penting dalam Sejarah Tunjungan Plaza Terjadi?

Perjalanan Tunjungan Plaza dimulai pada awal tahun 1985, ketika pembangunan pertama kali dilakukan di atas lahan seluas kurang lebih 5 hektare dengan luas bangunan awal sekitar 44.700,88 meter persegi. Proses konstruksi menghabiskan biaya investasi sekitar Rp30 miliar, sebuah angka yang cukup besar untuk proyek properti di Surabaya pada masa itu.

Setelah melalui proses pembangunan selama satu setengah tahun, Tunjungan Plaza resmi dibuka untuk umum pada 7 Mei 1986, dan disusul dengan perayaan grand opening pada 15 Desember 1986. Momen ini menjadi titik balik penting karena untuk pertama kalinya Surabaya memiliki pusat perbelanjaan modern berskala besar yang menyatukan berbagai aktivitas komersial dalam satu kawasan.

Beberapa tonggak waktu penting lain dalam sejarah Tunjungan Plaza meliputi:

  • 1985: Awal pembangunan Tunjungan Plaza tahap pertama.

  • 7 Mei 1986: Pembukaan resmi untuk umum.

  • 15 Desember 1986: Perayaan grand opening.

  • 1993–1996: Pembangunan Tunjungan Plaza 3 sekaligus perluasan kawasan menjadi superblok.

  • 5 Januari 1996: Peresmian Hotel Sheraton Tunjungan sebagai bagian dari kawasan terintegrasi.

Ekspansi tersebut menegaskan bahwa Tunjungan Plaza tidak berhenti berkembang setelah pembukaan awal. Pada 1993, pembangunan Tunjungan Plaza 3 dimulai bersamaan dengan rencana pembangunan hotel dan apartemen, menjadikannya kawasan superblok pertama di Surabaya yang menggabungkan fungsi ritel, hunian, dan perhotelan dalam satu kompleks.

Dalam perjalanannya, Tunjungan Plaza juga sempat menghadapi tantangan, termasuk peristiwa kebakaran pada April 2022 yang sempat menghentikan aktivitas sebagian area. Namun demikian, kemampuannya untuk terus beroperasi dan tetap menjadi rujukan utama warga menunjukkan daya tahan historis yang menjadikannya lebih dari sekadar bangunan komersial biasa.

Baca juga: Trans Studio Mall Bandung Mengubah Mall Menjadi Destinasi Hiburan dan Gaya Hidup

Di Mana Letak Strategis Tunjungan Plaza dalam Peta Kota Surabaya?

Tunjungan Plaza berdiri di lokasi yang sangat strategis, tepatnya di Jalan Jenderal Basuki Rahmat yang membentang hingga ke Jalan Embong Malang, kawasan yang sejak lama dikenal sebagai denyut nadi perekonomian kota pahlawan. Posisi ini menjadikan Tunjungan Plaza mudah diakses dari berbagai penjuru kota, sekaligus menegaskan posisinya sebagai pusat gravitasi aktivitas masyarakat Surabaya.

Yang membuat lokasi ini semakin bermakna secara historis adalah kedekatannya dengan Jalan Tunjungan dan Pasar Tunjungan, dua kawasan yang pada masa sebelum tahun 1980-an sudah dikenal ramai dan menjadi pusat perdagangan kota. Dengan membangun pusat perbelanjaan modern tepat di sekitar kawasan bersejarah tersebut, Pakuwon Jati secara tidak langsung menghubungkan masa lalu dan masa depan Surabaya dalam satu titik geografis yang sama.

Dari perspektif place branding, pemilihan lokasi semacam ini sangat strategis karena sebuah tempat akan lebih mudah membangun identitas kuat apabila terhubung dengan narasi sejarah yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Jalan Tunjungan sendiri memiliki nilai historis tinggi, bahkan sempat menjadi lokasi penting dalam peristiwa perjuangan arek-arek Suroboyo, sehingga nama besar itu ikut diwariskan pada pusat perbelanjaan yang berdiri di dekatnya.

Selain faktor historis, kemudahan akses transportasi turut memperkuat posisi Tunjungan Plaza sebagai landmark kota. Kawasan ini terhubung dengan berbagai jalur utama Surabaya, menjadikannya titik temu yang alami bagi warga dari berbagai wilayah kota untuk berkumpul, baik untuk keperluan belanja, bisnis, maupun rekreasi bersama keluarga.

Mengapa Tunjungan Plaza Dianggap Representasi Kekuatan Sejarah Surabaya?

Tunjungan Plaza dianggap sebagai representasi kekuatan sejarah karena statusnya sebagai pusat perbelanjaan modern pertama di Surabaya sekaligus salah satu mal tertua di Indonesia. Sebelum kehadirannya, tidak ada satu pun bangunan komersial di kota ini yang menawarkan pengalaman berbelanja terintegrasi dalam skala sebesar itu, sehingga kemunculannya menjadi penanda transisi Surabaya menuju era urban modern.

Dari sudut pandang place branding, Tunjungan Plaza berfungsi sebagai penguat citra kota yang lebih dari sekadar bangunan fisik. Ia menjadi simbol bahwa Surabaya, yang dikenal dengan julukan kota pahlawan karena sejarah perjuangannya, juga mampu bertransformasi menjadi kota yang dinamis secara ekonomi dan gaya hidup. Identitas semacam ini penting bagi sebuah kota karena membantu membangun citra yang konsisten di mata warganya sendiri maupun wisatawan dari luar kota.

Dampak ekonomi dan sosial dari kehadiran Tunjungan Plaza juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Kompleks ini membuka ribuan lapangan pekerjaan, mendorong pertumbuhan sektor ritel di sekitarnya, dan menjadi pemicu berkembangnya kawasan komersial lain di Surabaya. Keberadaannya turut menjadikan Surabaya sebagai destinasi belanja dan gaya hidup yang diperhitungkan di kawasan Jawa Timur, bahkan Indonesia bagian timur secara keseluruhan.

Bagi fripipel yang ingin memahami bagaimana sebuah bangunan bisa menjadi bagian dari identitas kolektif sebuah kota, Tunjungan Plaza adalah contoh nyata bagaimana sejarah, arsitektur, dan kebutuhan sosial masyarakat bisa bertemu dalam satu ruang. Ia bukan hanya tempat transaksi, melainkan juga ruang memori bersama yang terus diwariskan dari satu generasi Surabaya ke generasi berikutnya.

Bagaimana Tunjungan Plaza Mempertahankan Relevansi dan Identitasnya ke Depan?

Untuk tetap relevan di tengah persaingan pusat perbelanjaan modern, Tunjungan Plaza secara konsisten melakukan pembaruan dan renovasi pada sejumlah areanya. Strategi ini memastikan bahwa fasilitas fisik tetap sejalan dengan standar kenyamanan masa kini, tanpa menghilangkan elemen historis yang menjadi identitas utamanya sejak awal berdiri.

Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah terus memperbarui portofolio tenant dengan menghadirkan merek-merek global baru seperti Dior dan Make Up For Ever, sekaligus mempertahankan tenant lama yang sudah menjadi bagian dari ingatan kolektif warga Surabaya. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana strategi place branding yang baik mampu menyeimbangkan inovasi dengan pelestarian warisan sejarah agar sebuah tempat tidak kehilangan jati dirinya.

Tantangan ke depan tentu tidak sedikit, terutama dengan pertumbuhan pesat e-commerce dan kemunculan pusat perbelanjaan baru di berbagai penjuru Surabaya. Untuk menjawab tantangan ini, Tunjungan Plaza perlu terus memperkuat pengalaman berbelanja fisik yang tidak bisa digantikan oleh belanja daring, misalnya melalui pengalaman kuliner, hiburan, hingga ruang interaksi sosial yang autentik.

Pada akhirnya, kekuatan sejarah yang dimiliki Tunjungan Plaza adalah aset yang tidak dimiliki oleh kompetitor mana pun. Selama pengelolanya mampu menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian nilai historis, Tunjungan Plaza akan terus menjadi representasi identitas pusat kota Surabaya bagi generasi demi generasi fripipel yang akan datang.

Data & Statistik

Tunjungan Plaza Surabaya
Indikator Data / Informasi
Lokasi Jl. Basuki Rachmat, pusat Kota Surabaya
Berdiri 1986
Konsep Pusat perbelanjaan modern dan kawasan superblock
Perkembangan Berkembang dari Tunjungan Plaza I menjadi enam pusat perbelanjaan yang saling terhubung
Luas Kawasan Lebih dari 175.000 m²
Gerai Lebih dari 600 gerai dengan beragam merek lokal dan internasional
Fasilitas Belanja, kuliner, hiburan, bioskop IMAX, convention center, dan empat atrium utama
Identitas Tempat Sejarah, lokasi pusat kota, modernitas, gaya hidup, dan pengalaman pengunjung
Place Branding Sejarah Surabaya, lokasi strategis, ekspansi kawasan, tenant, dan pengalaman ruang

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Ingin Place Branding Fripipel Se-Kuat Tunjungan Plaza?

Jika Fripipel ingin:

  • Membangun identitas tempat yang kuat, khas, dan mudah dikenali.

  • Menciptakan pengalaman ruang yang membuat pengunjung ingin kembali.

  • Mengembangkan karakter tempat yang berbeda dari kompetitor.

  • Memperkuat positioning agar relevan dengan target pengunjung.

  • Menghubungkan sejarah, ruang, aktivitas, dan pengalaman menjadi identitas yang konsisten.

Maka Fripipel membutuhkan strategi branding yang terintegrasi.

Saatnya produk Fripipel tidak hanya dikenal, tetapi juga menjadi pilihan utama di pasar melalui product Branding yang tepat.

Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consultingmembantu brand berkembang melalui:

  • Branding & positioning strategy

  • Website dan landing page berbasis SEO

  • Content strategy yang relevan dengan tren

  • Digital campaign untuk meningkatkan exposure

Pastikan brand Fripipel berkembang bersama Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consulting. Integrasikan layanan Business Consultingserta Brand Strategy Consulting untuk menciptakan product Branding yang lebih kuat, kompetitif, dan berkelanjutan.

Baca juga :

Rian Kurniawan - Start Friday Asia Brand and Business Strategy Consulting

Helps Your Business Grow Meaningfully. Since 2012, we've been helping luxury and premium businesses, from boutique hotels to fashion brands, build strong identities and strategies that generate real growth. Now with AI powered insights for faster, more informed decisions.

https://startfriday.asia
Previous
Previous

Marvell City Menghadapi Akhir Masa Jaya di Tengah Persaingan Mall Surabaya

Next
Next

Trans Studio Mall Bandung Mengubah Mall Menjadi Destinasi Hiburan dan Gaya Hidup