Dulu Jadi Pusat Teknologi Surabaya Begini Perubahan Hi-Tech Mall Sekarang
Hi-Tech Mall pernah menjadi kiblat teknologi bagi seluruh warga Jawa Timur, bahkan Indonesia bagian timur, di masa jayanya. Namun siapa sangka, gedung yang dulu ramai dipadati ratusan pedagang komputer dan laptop ini kini justru identik dengan lorong sepi dan stan yang banyak ditinggalkan penyewanya. Bagi fripipel yang pernah merasakan hiruk pikuk berburu komponen komputer di sana pada era 1990-an hingga awal 2000-an, kondisi Hi-Tech Mall saat ini tentu terasa mengejutkan. Menariknya, cerita mal ini tidak berhenti di titik kemunduran saja, karena Pemerintah Kota Surabaya kini tengah menyiapkan babak baru bagi identitas kawasan ini.
Apa yang Membuat Hi-Tech Mall Dulu Begitu Ikonik sebagai Pusat Teknologi Surabaya?
Hi-Tech Mall adalah pusat perbelanjaan yang berlokasi di Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya, dan dikenal luas sebagai pasar IT terbesar dan terlengkap di kota ini, bahkan disebut-sebut sebagai yang terbesar di Indonesia bagian timur pada masanya. Gedung berlantai lima ini pada era 1990-an hingga awal 2000-an menjadi rujukan utama warga yang mencari perangkat komputer, laptop, hingga berbagai aksesori teknologi.
Kekuatan Hi-Tech Mall pada masa jayanya terletak pada kelengkapan produk dan layanan yang ditawarkan dalam satu kawasan. Lantai dasar diisi oleh konter resmi notebook dari berbagai merek ternama seperti Apple, HP, Dell, dan Lenovo, sementara lantai-lantai di atasnya menampung toko yang menjual maupun menerima perangkat bekas, jasa rakitan komputer, hingga kantor distributor resmi untuk wilayah Jawa Timur.
Beberapa fakta yang menunjukkan betapa besarnya skala bisnis Hi-Tech Mall pada masa kejayaannya antara lain:
Tercatat pernah memiliki sekitar 400 pedagang yang mengisi kelima lantainya.
Menjadi pusat distribusi resmi berbagai merek komputer dan laptop untuk wilayah Jawa Timur.
Menyediakan layanan lengkap mulai dari penjualan baru, barang bekas, hingga jasa servis dan rakitan komputer.
Berlokasi strategis di tengah kota, hanya sekitar 1,5 kilometer dari Balai Kota Surabaya.
Skala dan kelengkapan semacam ini menjadikan Hi-Tech Mall bukan sekadar pusat perbelanjaan biasa, melainkan simbol kemajuan teknologi Surabaya pada masanya, sekaligus destinasi wajib bagi siapa pun yang membutuhkan perangkat digital di Jawa Timur.
Siapa Saja Pihak yang Berperan dalam Perjalanan Panjang Hi-Tech Mall dari Swasta hingga Pemkot?
Sejarah Hi-Tech Mall tidak bisa dilepaskan dari perannya sebagai bagian dari pengembangan Taman Hiburan Rakyat atau THR Surabaya. Gedung ini dibangun oleh Putra Duta Anggada mulai tahun 1986 hingga rampung sekitar 1989, di atas lahan yang sebelumnya menjadi kawasan Pasar Malam dan THR yang sudah legendaris di kalangan warga Surabaya.
Pada masa awal beroperasi, pengelolaan gedung ini sempat dipegang oleh pihak ketiga bernama Sasana Boga melalui skema Bangun Guna Serah atau BOT, sebuah mekanisme kerja sama yang memberikan hak pengelolaan sementara kepada pihak swasta sebelum akhirnya dikembalikan kepada pemilik lahan. Setelah masa kerja sama tersebut berakhir, pengelolaan Hi-Tech Mall resmi beralih sepenuhnya ke Pemerintah Kota Surabaya pada 1 April 2019, tepat setelah 30 tahun dikelola pihak swasta.
Selain pengembang dan pengelola, ratusan pedagang yang bertahan dari masa ke masa juga menjadi pihak penting yang membentuk identitas Hi-Tech Mall. Sayangnya, dari sekitar 400 pedagang yang pernah mengisi mal ini, kini hanya tersisa sekitar 70 penyewa stan yang masih bertahan menjual laptop maupun komputer di tengah gempuran persaingan toko daring.
Kini, pihak yang memegang peran sentral dalam menentukan masa depan Hi-Tech Mall adalah Pemerintah Kota Surabaya di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi. Melalui program revitalisasi yang tengah berjalan, Pemkot berupaya menghadirkan wajah baru bagi kawasan ini tanpa menghilangkan keberadaan para pedagang elektronik lama yang telah bertahan puluhan tahun.
Kapan Titik Balik dari Masa Kejayaan Menuju Masa Sepi dan Revitalisasi Terjadi?
Hi-Tech Mall mulai beroperasi sebagai pusat IT sekitar tahun 1989, setelah proses pembangunan yang dimulai sejak pemancangan pondasi pada 1984. Masa kejayaan mal ini berlangsung cukup panjang, terutama pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an, ketika permintaan masyarakat akan perangkat komputer dan laptop sedang berada pada puncaknya.
Namun seiring berjalannya waktu, persaingan dengan toko daring dan minimnya perawatan gedung mulai menggerus jumlah pengunjung secara bertahap. Puncaknya terlihat jelas pada laporan Desember 2024, ketika jumlah penyewa yang bertahan tinggal sekitar 70 dari yang sebelumnya mencapai 400 pedagang, sebuah penurunan yang sangat signifikan dari masa kejayaannya dahulu.
Beberapa tonggak waktu penting dalam perjalanan Hi-Tech Mall dapat dirangkum sebagai berikut:
1984–1989: Proses pembangunan gedung sebagai bagian dari pengembangan THR Surabaya.
1990-an hingga awal 2000-an: Masa kejayaan sebagai pusat IT terbesar di Surabaya dan Indonesia bagian timur.
1 April 2019: Pengelolaan gedung resmi beralih sepenuhnya dari pihak swasta ke Pemerintah Kota Surabaya.
14 Januari 2026: Wali Kota Eri Cahyadi meninjau langsung progres revitalisasi kawasan Hi-Tech Mall.
31 Mei 2026: Target peresmian tahap awal revitalisasi bertepatan dengan Hari Jadi Kota Surabaya.
Rangkaian waktu ini menunjukkan bahwa perjalanan Hi-Tech Mall mengalami siklus lengkap, mulai dari masa kejayaan, periode kemunduran akibat perubahan zaman, hingga kini memasuki babak baru melalui program revitalisasi yang digagas Pemkot Surabaya.
Baca juga: City of Tomorrow Mall dan Cerita Kejayaan yang Ikut Pergi Bersama UPH
Di Mana Posisi Hi-Tech Mall dalam Kawasan THR dan Peta Kota Surabaya?
Hi-Tech Mall berlokasi di Jalan Kusuma Bangsa Nomor 116-118, kawasan yang secara historis merupakan bagian dari Taman Hiburan Rakyat atau THR Surabaya, sebuah kawasan hiburan legendaris yang sudah dikenal warga sejak lama. Posisi ini menjadikan Hi-Tech Mall berada tepat di tengah kota, hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Balai Kota Surabaya.
Di sekitar kawasan Hi-Tech Mall, terdapat pula Taman Remaja Surabaya atau TRS yang kemudian melebur bersama THR menjadi Surabaya Expo Center, sebuah kawasan yang kerap ramai dikunjungi saat digelar berbagai acara atau pameran. Kedekatan geografis ini sebenarnya menjadi potensi besar yang belum sepenuhnya dimaksimalkan, karena keramaian yang tercipta saat ada acara di Surabaya Expo Center belum secara konsisten berdampak pada tingkat kunjungan ke Hi-Tech Mall.
Dari sudut pandang place branding, kedekatan Hi-Tech Mall dengan kawasan THR yang sarat nilai historis sebenarnya menjadi modal kuat untuk membangun narasi identitas yang unik. Sebuah kawasan akan lebih mudah membangun citra khas apabila mampu menghubungkan fungsi lamanya dengan kebutuhan masyarakat masa kini, dan lokasi Hi-Tech Mall memiliki keunggulan alami dalam hal tersebut karena posisinya yang menyatu dengan sejarah panjang THR Surabaya.
Sayangnya, potensi lokasi strategis ini belum sepenuhnya termanfaatkan secara optimal pada periode kemundurannya. Salah satu anggota DPRD Surabaya bahkan menyebut bahwa integrasi yang lebih optimal antara Hi-Tech Mall dan Surabaya Expo Center di sebelahnya berpotensi besar mengembalikan keramaian kawasan ini, sebuah pandangan yang kini mulai diwujudkan melalui program revitalisasi yang sedang berjalan.
Mengapa Perubahan Identitas Hi-Tech Mall Penting bagi Place Branding Kota Surabaya?
Perubahan identitas Hi-Tech Mall menjadi penting karena bangunan ini bukan sekadar aset komersial biasa, melainkan bagian dari sejarah panjang kawasan THR yang sudah melekat kuat dalam ingatan kolektif warga Surabaya. Dari sudut pandang place branding, mempertahankan sebuah bangunan bersejarah tanpa memperbarui fungsinya sesuai kebutuhan zaman justru berisiko membuat tempat tersebut kehilangan relevansi sepenuhnya di mata masyarakat.
Rencana Pemkot Surabaya untuk menyayembarakan nama baru bagi gedung ini menunjukkan pendekatan rebrandingyang cukup strategis. Alih-alih hanya mempertahankan nama lama yang sudah identik dengan citra kemunduran, langkah ini membuka ruang bagi terciptanya identitas baru yang lebih relevan dengan fungsi barunya sebagai kawasan multifungsi ke depan.
Transformasi Hi-Tech Mall dari sekadar pusat elektronik menjadi ruang yang mengintegrasikan bisnis IT, kantor pemerintahan, dan pusat kreatif anak muda juga mencerminkan bagaimana place branding modern tidak lagi bergantung pada satu fungsi tunggal. Sebuah kawasan kini dituntut untuk lebih adaptif, menggabungkan berbagai kebutuhan masyarakat dalam satu identitas yang lebih kaya dan multidimensi.
Bagi fripipel yang tertarik mempelajari bagaimana sebuah tempat dapat dibangun ulang citranya, kasus Hi-Tech Mall menjadi contoh nyata bahwa place branding yang efektif tidak berarti menghapus sejarah lama, melainkan menemukan cara baru untuk menghidupkannya kembali sesuai konteks zaman, tanpa meninggalkan para pelaku usaha yang telah menjadi bagian dari identitas kawasan tersebut selama puluhan tahun.
Bagaimana Revitalisasi Ini Akan Membentuk Wajah Baru Hi-Tech Mall ke Depan?
Program revitalisasi Hi-Tech Mall yang digagas Pemkot Surabaya menargetkan tahap awal operasional pada 31 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Jadi Kota Surabaya. Fokus awal revitalisasi diarahkan pada pemanfaatan area basement dan lantai dasar, yang direncanakan menjadi ruang aktivitas kreatif bagi anak muda sekaligus tetap mempertahankan fungsi sebagai pusat IT.
Sebagai daya tarik awal, Pemkot Surabaya akan menggratiskan biaya sewa stan selama enam bulan pertama bagi para pelaku ekonomi kreatif yang bergabung, sebuah langkah yang diharapkan mampu menarik minat komunitas dan pengusaha muda untuk mulai beraktivitas di kawasan ini kembali. Pendataan penyewa dilakukan langsung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dengan fokus pada anak muda yang ingin mengembangkan usaha maupun kegiatan komunitas.
Yang menarik, Pemkot memastikan bahwa para pedagang elektronik lama tidak akan digusur atau dipindahkan dari lokasi mereka saat ini. Pendekatan ini menunjukkan bahwa transformasi Hi-Tech Mall tidak dimaksudkan untuk menghapus identitas lamanya sebagai pusat teknologi, melainkan memperkayanya dengan fungsi-fungsi baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini.
Pada akhirnya, keberhasilan revitalisasi Hi-Tech Mall akan sangat bergantung pada kemampuan Pemkot Surabaya menyatukan nilai historis kawasan THR, kebutuhan pedagang elektronik lama, serta aspirasi anak muda yang menginginkan ruang kreatif baru. Bagi fripipel yang penasaran dengan wajah baru kawasan ini, jawabannya akan segera terlihat pada pertengahan tahun 2026, ketika Hi-Tech Mall diharapkan bangkit kembali dengan identitas yang lebih relevan bagi Surabaya masa kini.
Data & Statistik
| Indikator | Data / Informasi |
|---|---|
| Lokasi | Jalan Kusuma Bangsa No. 116–118, Surabaya, berada di kawasan THR dan dekat dengan pusat aktivitas Kota Surabaya |
| Sejarah | Bermula dari kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR), kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan teknologi sebelum menggunakan nama Hi-Tech Mall pada Januari 2004 |
| Positioning | Pusat komputer, teknologi, dan perangkat IT yang dikenal sebagai salah satu destinasi utama masyarakat Surabaya untuk mencari produk dan layanan teknologi |
| Target Utama | Pengguna komputer dan teknologi, pelajar, mahasiswa, pekerja, komunitas teknologi, pelaku usaha, serta masyarakat yang membutuhkan perangkat dan layanan IT |
| Tenant dan Fasilitas | Toko komputer, perangkat IT, aksesori, jasa servis, serta fasilitas pendukung yang kini mulai diperluas dengan F&B, ruang kreatif, area komunitas, dan fasilitas multifungsi |
| Daya Tarik | Konsentrasi toko teknologi yang membentuk ekosistem komputer dan IT, ditambah aktivitas komunitas serta peluang pengembangan industri kreatif |
| Perubahan Pasar | Perkembangan e-commerce dan perubahan perilaku konsumen membuat kebutuhan untuk datang langsung ke pusat komputer berkurang, sehingga aktivitas perdagangan fisik ikut mengalami perubahan |
| Identitas Tempat | Pernah dikenal sebagai ikon pusat teknologi dan komputer Surabaya, lalu mengalami penurunan aktivitas sebelum diarahkan menjadi ruang yang lebih terbuka bagi komunitas dan industri kreatif |
| Retail Branding | Transformasi melalui revitalisasi tenant mix, pengembangan F&B dan UMKM, serta repositioning menjadi SUBEC Creative Hub yang menggabungkan fungsi retail, komunitas, kreativitas, dan industri kreatif |
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
-
Konsentrasi toko komputer, perangkat IT, aksesori, dan jasa servis menjadikannya destinasi teknologi utama di Surabaya.
-
Pedagang, distributor, vendor teknologi, komunitas, pelajar, mahasiswa, pekerja, dan konsumen teknologi.
-
Hi-Tech Mall mulai dikenal sebagai pusat teknologi pada awal 2000-an, terutama setelah menggunakan nama tersebut pada Januari 2004.
-
Hi-Tech Mall berada di Jalan Kusuma Bangsa No. 116–118, Surabaya, di kawasan THR.
-
Perkembangan e-commerce dan perubahan perilaku konsumen mengurangi ketergantungan pada kunjungan langsung ke pusat komputer.
-
Melalui revitalisasi dengan menambah F&B, UMKM, komunitas, industri kreatif, serta mengembangkan kawasan menjadi SUBEC Creative Hub.
Ingin Place Branding Fripipel Se-Kuat Hi-Tech Mall di Masa Kejayaannya?
Jika Fripipel ingin:
Membangun kembali identitas tempat yang relevan.
Menciptakan positioning yang kuat dan mudah dikenali.
Menghadirkan pengalaman yang membuat orang kembali berkunjung.
Menghidupkan ekosistem melalui komunitas dan aktivitas kreatif.
Beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.
Maka Fripipel membutuhkan strategi Retail Branding yang terintegrasi.
Saatnya produk Fripipel tidak hanya dikenal, tetapi juga menjadi pilihan utama di pasar melalui product Branding yang tepat.
Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consultingmembantu brand berkembang melalui:
Branding & positioning strategy
Website dan landing page berbasis SEO
Content strategy yang relevan dengan tren
Digital campaign untuk meningkatkan exposure
Pastikan brand Fripipel berkembang bersama Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consulting. Integrasikan layanan Business Consultingserta Brand Strategy Consulting untuk menciptakan product Branding yang lebih kuat, kompetitif, dan berkelanjutan.
Baca juga :

