City of Tomorrow Mall dan Cerita Kejayaan yang Ikut Pergi Bersama UPH

Surabaya, Start Friday Asia — City of Tomorrow atau yang akrab disapa Cito oleh warga Surabaya, dulu adalah salah satu mal paling ramai di kawasan Surabaya Selatan. Namun beberapa tahun terakhir, nama Cito justru lebih sering muncul dalam pemberitaan tentang deretan stan kosong dan lorong yang senyap. Menariknya, kemunduran ini punya satu benang merah yang jarang disadari banyak orang, yakni kepergian kampus Universitas Pelita Harapan atau UPH yang dulu berada persis di dalam kompleks mal ini. Bagi fripipel yang dulu mengenal Cito sebagai titik temu mahasiswa, keluarga, dan pelancong menuju Bandara Juanda, kisah ini menjadi pengingat bahwa kejayaan sebuah tempat sering kali bergantung pada banyak elemen yang saling tferkait.

Apa yang Terjadi pada City of Tomorrow hingga Disebut Kehilangan Masa Kejayaannya?

City of Tomorrow adalah kawasan superblok yang terdiri dari mal, apartemen Aryaduta Residences, hotel Aryaduta, dan gedung perkantoran dalam satu kompleks terintegrasi. Sebagai satu-satunya superblok milik Lippo Malls di wilayah Indonesia bagian timur, Cito pada masanya sempat menjadi kebanggaan tersendiri bagi Surabaya, khususnya karena lokasinya yang strategis di gerbang masuk kota dari arah Sidoarjo dan Bandara Juanda.

Namun kondisi tersebut kini jauh berbeda. Berdasarkan sejumlah laporan media dan ulasan pengunjung, mal ini mengalami penurunan drastis jumlah pengunjung, terutama sejak pandemi Covid-19 melanda. Bahkan pada akhir 2025, sejumlah ulasan pengunjung menyebut kondisi mal ini sudah sangat memprihatinkan, dengan sebagian besar area tidak lagi beroperasi secara optimal.

Beberapa fakta yang menggambarkan kemunduran City of Tomorrow saat ini antara lain:

  • Sebagian besar area lantai LG (lower ground) tutup, dengan hampir seluruh stan ditempeli pengumuman disewakan kembali.

  • Salah satu tenant besar seperti Lotus Supermarket sudah tidak lagi beroperasi di dalam mal.

  • Biaya sewa stan sempat diobral hingga Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per tahun untuk menarik penyewa baru.

  • Sejumlah fasilitas seperti eskalator dilaporkan sudah tidak berfungsi dengan baik di beberapa titik.

Kondisi ini menjadi ironi besar mengingat luas total bangunan Cito yang mencapai sekitar 170.000 meter persegi di atas lahan seluas 2,6 hektare, sebuah skala yang seharusnya mampu menampung aktivitas komersial dalam jumlah besar apabila dikelola dengan strategi yang tepat.

Siapa Saja Pihak yang Terkait dengan Kejayaan dan Kemunduran Cito, Termasuk UPH?

Cito dirancang oleh Anggara Architeam dan dibangun oleh Total Bangun Persada, dengan pengelolaan berada di bawah naungan Lippo Malls. Sebagai pengembang dan pengelola utama, Lippo Malls memegang peran sentral dalam menentukan arah bisnis dan strategi tenant mix yang diterapkan di kawasan ini sejak awal beroperasi pada 2007.

Salah satu pihak yang tidak bisa dilepaskan dari cerita kejayaan Cito adalah Universitas Pelita Harapan, yang dulu memiliki kampus tepat berdampingan dengan gerai-gerai ritel di dalam kompleks mal ini. Keberadaan ribuan mahasiswa UPH yang beraktivitas setiap hari secara tidak langsung ikut menghidupkan suasana mal, mulai dari food court hingga berbagai gerai kebutuhan sehari-hari.

Namun pada 25 Agustus 2022, UPH Kampus Surabaya resmi memindahkan lokasinya ke The Samator Building di kawasan Rungkut, hasil kolaborasi dengan Samator Group. Kepindahan ini dilakukan untuk menghadirkan fasilitas yang lebih modern dan membuka jaringan industri yang lebih luas bagi mahasiswa, namun di sisi lain turut menghilangkan salah satu sumber keramaian rutin yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari denyut nadi Cito.

Selain UPH, para pedagang dan penyewa stan yang bertahan hingga saat ini juga menjadi pihak yang merasakan langsung dampak kemunduran Cito. Sejumlah pedagang mengungkapkan bagaimana mereka harus beradaptasi dengan berjualan secara daring untuk menutup biaya sewa, karena mengandalkan kunjungan langsung ke mal saja sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan operasional mereka sehari-hari.

Kapan Titik Balik dari Ramai Menjadi Sepi Mulai Terlihat pada City of Tomorrow?

City of Tomorrow resmi berdiri pada tahun 2007 dan sempat menikmati masa kejayaan sebagai salah satu mal paling ramai di Surabaya Selatan, bahkan disebut menjadi rujukan warga dari Surabaya, Sidoarjo, hingga Gresik. Pada masa itu, kombinasi antara pusat perbelanjaan, hunian, perkantoran, dan kampus menjadikan Cito sebagai kawasan yang selalu ramai sepanjang hari.

Titik balik penting mulai terlihat sejak pandemi Covid-19 melanda pada 2020, ketika jumlah pengunjung ke berbagai pusat perbelanjaan di Surabaya menurun drastis, termasuk Cito. Namun berbeda dengan sejumlah mal lain yang mampu berangsur pulih pascapandemi, Cito justru terus mengalami penurunan pengunjung dari tahun ke tahun.

Beberapa tonggak waktu penting dalam perjalanan City of Tomorrow dapat dirangkum sebagai berikut:

  • 2007: City of Tomorrow resmi dibangun dan mulai beroperasi sebagai superblok Lippo Malls di Surabaya Selatan.

  • 2020: Pandemi Covid-19 mulai berdampak besar terhadap jumlah kunjungan ke Cito.

  • 25 Agustus 2022: UPH Kampus Surabaya resmi pindah ke The Samator Building, meninggalkan kompleks Cito.

  • Januari 2024: Laporan media menyebut kondisi Cito semakin sepi dengan banyak tenant tutup dari lantai satu hingga lantai empat.

  • Akhir 2025: Kondisi mal dilaporkan semakin parah, dengan sebagian besar area tidak lagi beroperasi secara normal.

Rangkaian waktu ini menunjukkan bahwa kemunduran Cito bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari dampak pandemi hingga hilangnya elemen penting seperti keberadaan kampus UPH yang dulu ikut menopang keramaian kawasan ini.

Baca juga: Plasa Marina Surabaya dan Kekuatan Positioning sebagai Sentra Handphone dan Teknologi

Di Mana Posisi Cito dalam Peta Mal Surabaya dan Mengapa Lokasi Strategis Tak Lagi Cukup?

Secara geografis, City of Tomorrow menempati posisi yang sebenarnya sangat strategis, yaitu di sudut barat laut Bundaran Waru, berseberangan dengan markas Komando Resor Militer 084, serta dekat dengan perbatasan Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo maupun Bandara Juanda. Lokasi semacam ini seharusnya menjadi keunggulan besar karena berada di jalur utama yang dilalui masyarakat dari berbagai arah setiap harinya.

Namun kenyataannya, lokasi strategis saja tidak lagi cukup untuk mempertahankan keramaian sebuah pusat perbelanjaan di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat. Beberapa pengunjung bahkan menilai Cito kini hanya cocok dijadikan tempat transit sebentar menjelang penerbangan, bukan lagi destinasi utama untuk berbelanja atau menghabiskan waktu bersama keluarga seperti pada masa kejayaannya dahulu.

Dari sudut pandang place branding, kasus Cito menegaskan bahwa faktor lokasi hanyalah salah satu variabel dari banyak elemen yang membentuk keberhasilan sebuah pusat perbelanjaan. Tanpa dukungan ekosistem pendukung seperti populasi tetap dari kampus, kantor, atau hunian yang aktif setiap hari, lokasi strategis semata tidak mampu menahan laju penurunan jumlah pengunjung secara signifikan.

Perbandingan dengan mal-mal lain di Surabaya turut memperjelas situasi ini. Sementara sejumlah pusat perbelanjaan lain berhasil mempertahankan atau bahkan meningkatkan daya tariknya dengan terus memperbarui konsep dan tenant mix, Cito justru tertinggal dalam beradaptasi dengan cepatnya perubahan preferensi masyarakat pascapandemi, sehingga posisi strategisnya di peta kota belum cukup menyelamatkan performa bisnisnya secara keseluruhan.

Mengapa Kepergian UPH Turut Memengaruhi Nasib City of Tomorrow?

Kepergian UPH dari kompleks Cito memiliki dampak yang lebih besar dari yang terlihat sekilas, karena keberadaan sebuah institusi pendidikan di dalam pusat perbelanjaan sebenarnya berfungsi sebagai penopang keramaian harian yang stabil. Ribuan mahasiswa yang beraktivitas setiap hari menciptakan arus kunjungan rutin ke berbagai gerai makanan, minuman, dan kebutuhan sehari-hari di sekitar kampus.

Dari perspektif place branding, keberadaan anchor non-ritel seperti kampus, perkantoran, atau institusi lain sering kali menjadi elemen krusial yang menjaga kestabilan jumlah pengunjung sebuah superblok, terlepas dari fluktuasi tren belanja masyarakat secara umum. Ketika elemen tersebut hilang, dampaknya dapat dirasakan secara signifikan pada keseluruhan ekosistem bisnis di dalam kawasan tersebut.

Kepergian UPH juga bertepatan dengan periode pemulihan pascapandemi, sehingga dampaknya terasa berlipat ganda. Alih-alih mengalami pemulihan seperti banyak mal lain, Cito justru kehilangan salah satu sumber keramaian utamanya di saat yang bersamaan dengan tantangan besar akibat perubahan pola konsumsi masyarakat pascapandemi.

Bagi fripipel yang mempelajari dinamika bisnis properti dan ritel, kasus Cito menjadi pelajaran penting bahwa strategi place branding yang baik tidak hanya soal menghadirkan tenant ritel yang menarik, tetapi juga soal menjaga keberagaman fungsi kawasan agar tidak terlalu bergantung pada satu elemen tertentu, seperti keberadaan sebuah kampus, yang suatu saat bisa saja berpindah lokasi karena berbagai pertimbangan strategis dari pihak lain.

Bagaimana City of Tomorrow Berupaya Bangkit dari Masa Suram Ini?

Menyadari kondisi yang semakin memprihatinkan, pengelola Cito mulai melakukan langkah revitalisasi secara bertahap. Salah satu langkah awal yang diambil adalah menghadirkan wahana bermain keluarga bernama Happy Time di area lower ground seluas 2.000 meter persegi, dengan lebih dari 50 wahana permainan sebagai daya tarik baru bagi keluarga di Surabaya dan sekitarnya.

Mall Direktur City of Tomorrow, Erick Richardo, menegaskan bahwa perubahan tenant mix akan menjadi fokus utama strategi revitalisasi ke depan, dengan mengedepankan tenant yang lebih dinamis dan sesuai kebutuhan masyarakat masa kini. Selain Happy Time, kehadiran tenant baru seperti Maxxima Billiard turut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung yang datang ke Cito.

Langkah revitalisasi ini menunjukkan pergeseran arah strategi dari sekadar pusat perbelanjaan konvensional menjadi destinasi wisata keluarga dan pusat komunitas bagi warga Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya. Pendekatan semacam ini sejalan dengan prinsip place branding modern, di mana sebuah pusat perbelanjaan dituntut untuk menawarkan pengalaman menyeluruh, bukan sekadar tempat transaksi jual beli semata.

Pada akhirnya, keberhasilan Cito untuk bangkit kembali akan sangat bergantung pada konsistensi eksekusi strategi revitalisasi yang telah dicanangkan, serta kemampuan pengelola menghadirkan elemen pendukung baru yang dapat menggantikan peran vital yang dulu diisi oleh keberadaan kampus UPH. Bagi fripipel yang mengikuti perjalanan panjang Cito, harapan untuk melihat kembali keramaian mal ini masih terbuka, asalkan transformasi yang dilakukan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat Surabaya Selatan di era yang terus berubah.

Data & Statistik

City of Tomorrow Surabaya
Indikator Data / Informasi
Lokasi Bundaran Waru, Surabaya Selatan, berada di kawasan perbatasan Surabaya dan Sidoarjo serta dekat dengan akses menuju Bandara Juanda
Kawasan Superblok yang mengintegrasikan pusat perbelanjaan, apartemen Aryaduta Residences, hotel Aryaduta, dan gedung perkantoran dalam satu kompleks
Positioning Pusat perbelanjaan dan kawasan terpadu yang pada masa awalnya mengandalkan kombinasi fungsi ritel, hunian, perkantoran, dan aktivitas pendidikan
Target Utama Masyarakat Surabaya Selatan, Sidoarjo, mahasiswa, keluarga, pekerja, serta pengguna jalan yang melintas menuju Surabaya dan Bandara Juanda
Tenant dan Fasilitas Beragam tenant ritel, area kuliner, fasilitas hiburan, kebutuhan harian, serta fasilitas pendukung yang terintegrasi dengan fungsi hunian, hotel, dan perkantoran
Daya Tarik Lokasi strategis, konsep superblok, serta keberadaan UPH Kampus Surabaya yang dahulu menjadi salah satu sumber aktivitas dan kunjungan rutin ke kawasan
Keunggulan Lokasi Berada di salah satu akses utama Surabaya Selatan, dekat Bundaran Waru, perbatasan Surabaya–Sidoarjo, dan jalur menuju Bandara Juanda
Identitas Tempat Destinasi komersial yang pernah dikenal sebagai titik temu mahasiswa, keluarga, pekerja, dan masyarakat yang melintas di kawasan Surabaya Selatan
Retail Branding Transformasi melalui revitalisasi tenant mix, penguatan fungsi keluarga dan komunitas, serta menghadirkan pengalaman baru seperti Happy Time dan Maxxima Billiard

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Ingin Place Branding Fripipel Se-Kuat City of Tomorrow di Masa Kejayaannya?

Jika Fripipel ingin:

  • Menghidupkan kembali identitas tempat dengan menghadirkan fungsi dan aktivitas yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

  • Membangun positioning baru yang lebih kuat agar City of Tomorrow kembali memiliki alasan untuk dikunjungi.

  • Menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berorientasi pada transaksi, tetapi juga hiburan, komunitas, keluarga, dan aktivitas sosial.

  • Membangun kembali ekosistem pengunjung dengan menghadirkan anchor baru setelah kepergian UPH.

  • Mengembangkan tenant mix yang lebih relevan dan konsisten untuk menciptakan arus kunjungan yang berkelanjutan.

  • Mengubah persepsi masyarakat terhadap Cito dari sekadar tempat transit menjadi destinasi yang kembali punya daya tarik.

  • Mengoptimalkan potensi lokasi strategis sebagai bagian dari identitas dan keunggulan place branding.

Maka Fripipel membutuhkan strategi Retail Branding yang terintegrasi.

Saatnya produk Fripipel tidak hanya dikenal, tetapi juga menjadi pilihan utama di pasar melalui product Branding yang tepat.

Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consultingmembantu brand berkembang melalui:

  • Branding & positioning strategy

  • Website dan landing page berbasis SEO

  • Content strategy yang relevan dengan tren

  • Digital campaign untuk meningkatkan exposure

Pastikan brand Fripipel berkembang bersama Start Friday Asia Brand & Business Strategy Consulting. Integrasikan layanan Business Consultingserta Brand Strategy Consulting untuk menciptakan product Branding yang lebih kuat, kompetitif, dan berkelanjutan.

Baca juga :

Rian Kurniawan - Start Friday Asia Brand and Business Strategy Consulting

Helps Your Business Grow Meaningfully. Since 2012, we've been helping luxury and premium businesses, from boutique hotels to fashion brands, build strong identities and strategies that generate real growth. Now with AI powered insights for faster, more informed decisions.

https://startfriday.asia
Previous
Previous

Dulu Jadi Pusat Teknologi Surabaya Begini Perubahan Hi-Tech Mall Sekarang

Next
Next

Plasa Marina Surabaya dan Kekuatan Positioning sebagai Sentra Handphone dan Teknologi